Mbak-mbak “Dokter” Yang Dihujat Karena Parkir, Plus Kelakuannya

Mbak-mbak “Dokter” (dr. Fika) Yang Dihujat Karena Parkir & Kelakuannya – Gimana, judulnya udah clickbait belum? Yak, sebelum kalian nge-judge macem-macem soal mbak dokter yang sedang kita ghibahin alias omongin dari belakang saat ini, ada baiknya kalian baca tulisan ini sampai selesai ya.

Oke kita langsung aja. Jadi tanggal 8 Juni 2020 kemarin, ada sebuah tweet dari akun @Txtdariseragam yang melempar umpan yang berisikan screenshot sebuah tweet dari akun @fikakartikap (nickname dr. Fika, selanjutnya kita sebut sebagai dr Fika aja yaa). Yang mana kemudian posting tersebut menyulut jiwa julid netizen twitter, hingga menjadi viral. Postingannya adalah seperti ini:

dr. Fika TwitterJadi tuh, sebenernya, nggak ada yang salah dengan tweet si mbak dr Fika Kartika ini. Hanya saja, ternyata si mbak dokter ini berfoto di depan mobil yang terparkir, dengan background rambu dilarang parkir. Dari ss tersebut, terlihat ada seseorang yang coba menegur dan mengingatkan soal “area dilarang parkir”. Nah, yang bikin gregetan adalah, jawabannya itu loh. “Wong ayu bebas mas”, katanya (bahasa Indonesia nya tuh “Orang cantik mah bebas ..”).

Menurut sebagian orang, mungkin hal ini tuh nggak penting-penting banget ya untuk diributkan. Akan tetapi kalau dilihat dari sisi lain, mbak dr. Fika Kartika ini dikhawatirkan akan memberikan contoh buruk dalam hal berlalu lintas. Yang namanya aturan, harus dipatuhi dong? Entah kamu mau orang cantik ataupun orang jelek, semua harusnya sama di mata hukum. Nggak ada keistimewaan bagi salah satunya. Iya, harusnya sih gitu.

Jawaban yang diberikan oleh mbak dr. Fika ini juga nampak seolah menyepelekan teguran yang ditujukan padanya. Apalagi dia pakai bawa-bawa kata “cantik” segala. Yang memicu netizen untuk memperhatikan lebih jauh dari sisi fisik. Dan ternyata ..

Sangat banyak yang berkata bahwa si mbak nya ini nggak cantik. Dan bahkan nggak sedikit pula yang meledek sesuatu dari sisi fisiknya si mbak ini. Intinya, dianggap berlawanan dengan kata “cantik” yang ia banggakan itu.

Wah, kalau menurutku sih, ini udah kejauhan ya. Ya kalaupun si mbaknya nggak cantik, mbok ya jangan sampai menghina kekurangan fisik. Iya sih, aku paham. Kalian sampai greget pengen menghujat kekurangan fisiknya karena si mbaknya sendiri yang menyombongkan sesuatu yang (kalian anggap) sebenernya nggak dimilikinya, kan? Tapi ya tolonglah, jangan sampai seperti itu.

Tapi kalau menurut pendapatku, mbaknya juga salah sih. Kenapa makin over pede? Kenapa ngerendahin orang lain juga? Makin greget lah netizen twitter tu ..

Perlu mbak tau, kalau warga twitter itu paling ahli dalam menggali aib seseorang. Mereka jago stalking, dan akan membawa aib ke permukaan walau sudah lama tenggelam. Seperti misalnya tweet mbak yang ini.

Emang sih, nggak ada hubungannya sama kasus awal soal parkir. Tapi ya kelakuan mbak ini bikin gregetan loh. Apalagi dengan gelar “dr” yang mbak bawa-bawa di nickname. Orang bakal makin sensitif dan gatel untuk nge-judge. Sekedar saran sih, mendingan gausah bawa-bawa gelar “dr” kalo memang akun twitter nya digunakan untuk ngetwit layaknya orang pada umumnya.

Karena apa? Karena hal sepele macem ini bakal bikin orang ragu akan kredibilitas mbaknya sebagai seorang dokter. Lah, emang apa hubungannya? Jadi gini.. Kalau dilihat dari timeline twit nya si mbak, isinya itu nggak jauh beda dari (maaf) remaja alay. Sama sekali nggak mencerminkan seorang dokter. Mohon maaf ya mbak, mungkin ini menyakitkan, tapi itulah kenyataan yang aku lihat mbak (katakanlah kebenaran walau itu pahit). Dari situ yaa, orang pasti bakal bertanya-tanya dong. Ini dokter beneran gak sih?

Dari yang aku tangkap, aku menterjemahkan bahwa netizen itu ingin menyarankan ke mbaknya: “Kalau mau tenar lewat jalur seleb, gausah bawa-bawa gelar dokter. Karena isi dari postingan mbak, sama sekali nggak mencerminkan seorang dokter.”.

Lebih lanjut, netizen itu ingin kalau misal pake gelar dokter, mbok ya minimal bikin konten yang .. Yaa, berhubungan dengan kesehatan gitu lah. Itu jauh lebih relevan dengan gelar yang mbak cantumkan di nickname. Sepele ya? Tapi ada benernya juga sih kalau menurutku. Seperti yang disampaikan oleh mbak ini.

Balik lagi ke persoalan awal, yaitu masalah parkir. Selang beberapa lama, mbak ini kemudian membela diri dengan membuat twit lanjutan. Yang isinya adalah begini:

Nahh, kalau misal dari awal jawabannya bener seperti itu, pasti netizen nggak bakal menggila. Eh tapi bentar. Ternyata ada hal lain yang tak luput dari kejulid’an netizen. Yaitu soal pernyataan si mbaknya yang sama sekali berbanding terbalik dengan foto yang dicantumkan. Oalah mbak, blunder lagi 🙁

Jadilah netizen makin membara keinginan untuk menghujatnya. Karena pembelaannya tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Yang mana si mbak bilang sudah menerapkan protokol kesehatan, tapi nyatanya mbaknya sendiri nggak pake masker 🙁

Dan setelah digali aibnya pada posting jauh-jauh hari sebelumnya, ternyata memang si mbaknya lebih mementingkan untuk menampakkan wajahnya daripada mengikuti “protokol kesehatan”, yaitu dengan mengenakan masker.

Dari sini akhirnya akupun paham kenapa netizen ingin supaya mbak dr Fika nggak usah bawa-bawa gelar dokter di akun twitter nya. Sudalah mbak, kalau begini emang lebih cocok tenar pakai jalur lain aja.

Belum cukup sampai disitu gaes. Jadi masih ada kelakuan si mbak nya yang bikin netizen makin pengen menghujat. Yang mana seolah ia kurang mampu untuk mengerti sebuah teguran halus / sarkas. Termasuk salah satunya dilontarkan oleh dr Tirta. Walaupun kemudian ya akhirnya dia menjawab dengan serius. Itupun setelah banyak yang menghujat dan ngasih petunjuk, kalau dia itu sebenernya sedang ditegur.

Baiklah, itulah kira-kira beberapa penyebab mengapa dr. Fika sampai viral karena ramai dihujat netizen. Pesanku buat mbak dr Fika Kartika:

Sudahlah mbak, kalau emang mbak belum sanggup tampil di socmed layaknya seorang dokter, mendingan gelar dokternya nggak usah dipasang di nickname. Daripada jadi beban sendiri kan? Netizen itu sensitif banget loh.

Dan ya, sepertinya mbak juga mesti belajar dewasa. Saat ditegur atau diingatkan, cobalah untuk nggak cengengesan. Dengan kata lain, hindarilah sikap over santuy. Apalagi dengan cara overproud terhadap diri sendiri. Itu bakalan bikin netizen makin terbakar semangatnya untuk menggali aib nya mbak.

Kenapa ini penting buat mbak? Ya karena itu tadi, gelar “dr” di nickname itu beban banget. Serius deh. Netizen jadi menaruh perhatian ekstra terhadap kesalahan-kesalahan mbak.

Kalau dari pengamatan sok tau dari aku, sepertinya mbak ini agak haus perhatian ya? Saranku sih mbak manfaatkan gelar dokter itu untuk berbagi sesuatu yang lebih berfaedah. Aku yakin mbak sanggup dan sangat bisa mendapatkan perhatian dengan cara itu. Lebih positif pula pasti bentuk perhatiannya. Bukan macem “perhatian dari om-om saat ngeliat cabe-cabean”. If you know what i mean.

Jadikan ini pelajaran ya mbak. Semoga kedepannya mbak bisa jadi lebih baik. Oiya satu lagi, mbaknya jomblo ya? Kalo gitu coba deh inget ini mbak:

Cowok baik-baik BIASANYA lebih suka cewek yang cerdas.

Semoga cepet dapet jodoh laki-laki yang baik ya mbak. Aamiin. Terus nih, pesanku buat para netizen:

Sudahlah, tak perlu menghujat masalah kekurangan fisik. Kalaupun emang menurutmu mbaknya nggak cantik, yaudah gausah dihina segala. Fokus aja ingetin soal kelakuannya, bukan ngehina fisiknya. Karena itu nggak relevan. Oke?

Akhir kata, mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Dan sebagian isi dari tulisan ini hanyalah opini pribadi yang nggak bermaksud memojokkan siapapun. Buat yang penasaran soal awal mula terjadinya keributan ini, monggo intip link nya disini.

Mas Bocah
Blogger lugu yang kadang punya rasa penasaran tinggi | Founder techijau.com & hayuklah.com | Main IG di @masbocah kadang main twitter juga di @PanduDryad