Analisa Pribadiku Tentang Aksi Klitih di Jogja, Apa Motifnya?

Analisa Pribadiku Tentang Aksi Klitih di Jogja, Apa Motifnya? – Sebelumnya aku sangat menyarankan untuk membaca tulisan ini sampai tuntas agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dan oleh karena tulisan ini adalah sekadar analisa dan bukan fakta berdasarkan pengakuan para pelaku klitih, maka sangat mungkin bahwa isi dalam tulisan ini tidaklah 100% benar. Syukur-syukur kalau ada anggota pelaku klitih yang sudi meninggalkan komentar untuk mengonfirmasi apakah tulisan ini benar atau tidak.

Baiklah, kita mulai ke bahasan utamanya ..

Sebenarnya aku sudah lama ingin membuat tulisan ini. Tapi niat untuk menulisnya itu kadang naik turun. Ditambah dengan kesibukan duniawi, membuat tulisan ini tertunda begitu lamanya. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menyempatkan diri membuat tulisan ini. Karena baru-baru ini aku kembali terdengar ada aksi klitih. Sebelum mulai analisa, aku mau cerita sedikit.

Sekitar tahun 2014, aku yang masih tinggal di Jogja tercinta memang sudah pernah mendengar kabar bahwa ada sebuah aksi penganiayaan secara random yang dilakukan oleh pemuda Jogja. Bukan aksi perampokan, karena tidak ada harta yang diambil. Iya, tidak ada dompet atau motor yang hilang dalam aksi ini. Namun tak jarang, yang hilang adalah nyawa si korban. Inilah yang disebut-sebut sebagai aksi klitih di Jogja.

Aksi ini ini sering terdengar dan sudah memakan banyak korban jiwa. Hingga memancing amarah bagi warga Jogja. Ada yang menyarankan agar para orangtua tidak membiarkan anak pergi membawa motor saat malam hari, ada juga yang terang-terangan ingin memerangi aksi klitih dengan cara kekerasan.

Apa Motif Dibalik Aksi Klitih?

Beberapa ahli berpendapat bahwa aksi klitih dilakukan semata-mata sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan dan frustasi. Atau singkatnya, ini adalah aksi kenakalan remaja. Tapi kalau menurut pendapat dan analisaku pribadi, aksi klitih bukanlah sekadar kenakalan remaja semata. Melainkan aku menduga bahwa aksi klitih merupakan sebuah aksi rebel (pemberontakan) untuk “menyelamatkan” para pemuda asli Jogja. Hmm, bagaimana bisa?

Aku melihat bahwa ada beberapa kekhawatiran yang melatarbelakangi aksi klitih. Dan akan kubahas secara garis besarnya saja.

  • Kekhawatiran Pertama

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di Jogja itu, upah minimumnya sangat kecil. Sangat sulit sekali menemukan sebuah tempat kerja yang memberikan gaji yang layak bagi karyawannya. Bahkan menurut pengakuan beberapa temanku, bisa dibilang bahwa gaji karyawan di Jogja itu sangat tidak manusiawi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja rasanya tidak cukup. Belum lagi harus membayar uang kos atau kontrakan jika tidak punya rumah sendiri.

Dari masalah ini, muncul kekhawatiran pertama, yaitu tentang sulitnya pemuda lokal (asli Jogja) untuk bisa hidup berkecukupan di tanah kelahiran.

  • Kekhawatiran Kedua

Entah bagaimana, tapi Jogja itu memang bikin kangen. Mungkin bagi mereka yang cuma pernah mampir untuk berwisata, kota ini bakal berasa sama aja seperti kota lainnya. Tapi bagi yang sudah pernah tinggal di Jogja, hampir pasti bakal betah. Karena.. Nggak tau ya, berasa beda aja gitu kalo di Jogja. Kata-kata soal “Jogja berhati nyaman” itu emang beneran berasa.

Kalau boleh memilih, aku sendiri sebenarnya sangat ingin untuk menetap di Jogja. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya aku tidak bisa mewujudkan keinginan itu. Dan aku yakin bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang berpikiran untuk menetap di sana. Dan iya, sudah sangat banyak para pendatang, khususnya mahasiswa yang pernah menetap di Jogja, yang kemudian benar-benar menetap di Jogja.

Masalahnya adalah, dengan banyaknya pendatang yang kemudian menetap di Jogja, membuat Jogja semakin padat. Dan tak sedikit dari mereka yang kemudian membeli aset berupa tanah untuk bisa menetap dan membangun usaha di Jogja.

Belum lagi soal daya tarik wisata yang membuat banyak investor tertarik untuk memiliki aset di sana. Yang dikhawatirkan adalah, nantinya harga tanah menjadi melonjak terlalu tinggi, sehingga akan sulit untuk dijangkau oleh warga asli Jogja sendiri. .

  • Dua Kekhawatiran Yang Bersatu Padu

Dua kekhawatiran tersebut kemudian bersatu padu, dan melahirkan sebuah kekhawatiran baru. Yaitu, pemuda Jogja tidak akan bisa untuk menjadi tuan rumah di tanah kelahiran sendiri. Dengan terus naiknya harga properti, yang berbanding terbalik dengan rendahnya gaji karyawan di Jogja, kekhawatiran tersebut nampaknya memang begitu nyata.

Belum lagi soal minat yang tinggi untuk membeli properti di Jogja dari para pendatang yang terlanjur nyaman tinggal di Jogja. Membuat pemuda asli Jogja semakin terancam bakal “kehabisan tempat” dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini secara tidak langsung akan mengusir pemuda asli Jogja dari tanahnya sendiri. Dan aku yakin, kedua hal inilah yang kemudian melahirkan aksi rebel berupa aksi klitih.

Dan Kekhawatiran Ini, Pernah Kudengar Langsung ..

Setidaknya, aku pernah mendengar keluhan yang menggambarkan keadaan diatas, sebanyak dua kali. Keduanya itu aku dengar dari curcol antara sopir dan kernet bus TransJogja. Yang pertama adalah saat perjalanan menggabut tanpa tujuan bersama temanku, menaiki bus TJ. Ketika penumpang sudah sepi, mereka mengeluhkan soal jalanan Jogja yang semakin padat dan semakin macet.

Mereka juga seperti tidak menyukai pembangunan gedung-gedung baru yang saat itu seakan sangat menjamur. Lalu, mereka juga saling menceritakan berbagai permasalahan yang intinya mengeluhkan soal upah minimum Jogja yang dianggapnya tidak layak.

Yang kedua, aku kembali mendengarnya saat perjalanan pulang dari bandara menuju kosan. Kali ini, mereka mengeluhkan soal pendatang yang makin ramai menetap di Jogja. Tidak cuma membuat jalanan jadi macet, tapi juga ada statement yang menggambarkan kekhawatiran soal “kehabisan tempat”, seperti yang sudah ku tuliskan di atas. Sebenarnya, ada hal yang lebih mengerikan yang kudengar saat itu. Yang membuatku berpikiran bahwa inilah cikal bakal aksi klitih.

Namun rasanya tidak perlu untuk kusampaikan di sini karena bisa berpotensi menimbulkan keributan. Dan aku sangat yakin bahwa ini hanya oknum saja. Dan tidak menggambarkan bagaimana orang Jogja secara keseluruhan.

Aksi Rebel Bernama Klitih

Kalau dilihat dari modus aksinya, yaitu tidak mengambil harta (merampok) dan “hanya” mengancam nyawa, aku melihat bahwa aksi klitih ini memang murni sebuah aksi teror. Ingat ya, teror adalah sebuah aksi yang mengancam. Jadi tidak harus pakai sorban atau rajin sholat atau pakai baju gamis. Selama seseorang melakukan aksi yang mencancam, itu artinya dia sudah melakukan teror.

Tapi, untuk apa mereka melakukan aksi teror? Kurasa adalah untuk menghapuskan jargon “Jogja berhati nyaman” yang selama ini menjadi alasan mengapa para pendatang menjadi betah untuk tinggal di Jogja. Iya, kurasa mereka berusaha mengubah image Jogja yang selama ini dipandang sebagai kota yang nyaman, menjadi kota yang tidak aman.

Aku melihat bahwa aksi klitih ini memang berusaha untuk memberikan kesan tidak aman, dan bahkan cenderung mengerikan. Terlihat dari modusnya yang tidak berniat mengambil harta apapun, secara psikologis akan semakin membuat orang-orang ketakutan. Sehingga, cara ini dianggap paling instan dan paling efektif untuk membuat para pendatang menjadi enggan untuk menetap di Jogja. Dan jika minat para pendatang untuk tinggal di Jogja sudah turun, maka, kekhawatiran soal “kehabisan tempat” yang sudah dijelaskan sebelumnya tadi, tidak akan menjadi nyata.

Inti permasalahannya adalah dua itu tadi. Gaji yang terlalu kecil, dan pendatang yang terlalu banyak menetap di Jogja. Namun sekali lagi, tulisan ini hanyalah analisa semata, yang belum pasti benar adanya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa ternyata ada alasan lain dibalik aksi tersebut.