Kehilangan Sahabat, Seorang Teman Yang Sesungguhnya

Kehilangan Sahabat, Seorang Teman Yang Sesungguhnya

4760
6
SHARE

Kehilangan Sahabat, Seorang Teman Yang Sesungguhnya – Memiliki seorang sahabat adalah impian bagi semua orang, setidaknya, begitulah yang seringkali ku dengar dari mereka. Berbeda dengan teman biasa, seorang sahabat adalah dia yang benar-benar istimewa, yang sering kali keistimewaannya itu tak kita sadari hingga kita tak pernah tau mana yang benar-benar seorang sahabat, dan mana yang hanya seorang penjilat.

Beruntunglah kamu yang berhasil menyadari dan menemukan siapa sahabat sejatimu, karena tak semua orang bisa menemukan sahabat dalam hidupnya meski hanya satu orang saja. Ciri seorang sahabat bukanlah dia yang selalu berada bersama kita kapan saja, karena terkadang, mereka yang selalu hadir dimanapun kita berada hanyalah seorang yang ingin memanfaatkanmu saja. Sahabat juga bukanlah dia yang selalu membenarkan apa yang kamu lakukan dan katakan, karena justru sahabat adalah ia yang tak sungkan untuk menyampaikan pendapatnya meski itu tak sejalan dengan apa yang kamu inginkan.

Sahabat adalah ia yang mampu membuat kita merasa nyaman, dan merasa tak sungkan untuk mengekspresikan diri kita, hingga melakukan hal-hal yang konyol. Kita dan sahabat mungkin tak selalu kompak, namun kita sama-sama saling mencoba untuk mengimbangi satu sama lain. Dan sahabat adalah seorang teman terakhir yang masih sudi berada di sebelahmu saat yang lain meninggalkanmu karena kamu sudah tak punya apa-apa lagi.

Kehilangan Seorang Sabahat

Sering kali, apa yang membuat sahabat pergi adalah karena sikap egois yang ada dalam diri kita. Kadang memang ia tak sepaham denganmu, tak jarang ia sangat cerewet untuk menasehatimu. Kamu mungkin akan merasa jengkel, dan risih saat ia bersikap demikian. Tapi percayalah, ia bersikap demikian karena ia peduli padamu. Terkadang pula kita tak memikirkan perasaannya yang mungkin sudah lelah dengan sikap kita.

Hingga nanti tiba saat dimana sikapnya mulai berubah, dan perlahan mulai meninggalkanmu. Ya, ketika seorang teman yang sebelumnya cerewet mendadak mulai diam, itu adalah pertanda bahwa kamu akan kehilangan seorang sahabat, kehilangan seorang teman yang sesungguhnya, kehilangan orang yang peduli dengan hidupmu.

—————————- * * —————————-

Aku pernah mempunyai seorang sahabat, beberapa tahun lalu. Entah bagaimana kami bisa sangat akrab saat itu, padahal perkenalan kami baru beberapa hari sebelumnya. Kami berbagi tentang berbagai hal, cerita, dan kami hampir selalu bersama dalam semua keadaan, melakukan hal-hal jahil, dan beberapa kenakalan lainnya.

Ya, kami sudah melalui masa-masa senang dan sulit bersama, tak hanya dalam hal permainan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dia memang agak sedikit egois, dan aku sering kali menjadi korban ke-egoisannya. Kami beberapa kali berselisih paham karena hal itu, namun kemudian kami selalu kembali akur. Hingga, datang diantara kami seorang “teman” baru.

Awalnya kami dapat menerima kehadiran dari teman baru ini, dan kamipun jadi sering bermain bersama. Namun nampaknya, teman baru ini punya maksud lain, dan ia nampak berusaha menjauhkanku dengan sahabatku. Memang, sahabatku ini bisa dibilang merupakan anak dari orang berada, meski ia tak menunjukkannya pada orang banyak. Jadi kurasa sangat wajar jika ada orang yang punya maksud lain untuk mendekatinya.

Ia nampak berhasil mendikte sahabatku, membuatnya berubah sikap, dan belakangan baru ku ketahui bahwa teman baru ini berkata pada sahabatku bahwa aku menyukai teman wanitanya. Untunglah, sahabatku tak terlalu mempercayainya dan menanyakannya langsung padaku. Dan tentu saja dia lebih percaya padaku karena selama ini akulah orang yang selalu memberikan jalan tengah ketika ia dan teman wanitanya sedang tak akur.

Namun orang ketiga ini nampaknya tak menyerah begitu saja. Entah apalagi yang dikatakannya pada sahabatku, hingga ia mulai benar-benar berubah sikap. Dan hari itu, ia nampak marah padaku tanpa sebab yang jelas. Dan selanjutnya, mereka lebih sering bersikap seolah aku ini bukan teman mereka.

Cukup..!! Aku sudah tak tahan dengan sikapnya, dan memutuskan untuk pergi, meninggalkan sahabatku dengan “teman” barunya. Aku baru tau bahwa ternyata temannya ini hanyalah seorang penjilat yang ingin memanfaatkan sahabatku, atau sekarang bisa ku sebut sebagai mantan sahabat karena aku tak mau peduli lagi. Dia nampak senang bersama teman barunya, dan sepertinya temannya itu merasa sudah menang karena beberapa kali ia nampak meledekku, dibelakang mantan sahabatku.

Apakah aku bersedih dengan keadaan itu? Awalnya, iya. Tapi kemudian aku sadar, mungkin memang ini yang terbaik buatku. Toh dengan ini, aku jadi tak perlu lagi menghadapi keegoisannya yang sering membuatku lelah. Seiring berjalannya waktu, akupun menemukan teman baru, beberapa teman baru lebih tepatnya. Tidak kaya, tapi aku tau mereka semua tulus. Beberapa bulan berlalu, aku dan teman-teman baruku semakin akrab, dan aku sudah benar-benar tak mempedulikan mantan sahabatku. Jika dijadikan sebuah video, mungkin ceritanya akan mirip seperti ini :

Tapi sayang, akhir cerita kami tak seindah video berdurasi 6 menit diatas. Keadaan sudah tak sama lagi ketika ia mencoba memperbaiki semuanya.

Pagi itu, ia datang menghampiriku untuk bertanya soal kabar dan teman-teman baruku. Akupun bertanya balik, kemana temanmu yang itu? Setelah sekian lama, ia baru menyadari bahwa temannya itu tak lebih dari seorang penjilat, yang tak pernah tulus untuk menjadi seorang teman. Namun sepertinya semua sudah terlambat.

Aku tak ingin meninggalkan sahabat-sahabat baruku untuk dia yang pernah “membuang”ku begitu saja. Dan semua yang sudah rusak takkan bisa kembali seperti semula. Bukan, bukan karena dendam, aku hanya merasa pertemanan kami sekarang lebih seperti berteman dengan orang asing. Ia pun sepertinya merasakan hal yang sama, dan perlahan akhirnya mencari jalannya sendiri.

Dan terakhir kali aku melihatnya, ia nampak masih tak memiliki sahabat baru yang menemani hari-harinya, hingga kemudian ia benar-benar menghilang entah kemana.

—————————- * * —————————-

Maka, janganlah kamu menyia-nyiakan orang yang peduli tentang hidupmu. Janganlah kamu salah mengartikan bahwa ia yang menentangmu adalah musuhmu, dan ia yang selalu mendukungmu adalah temanmu. Tidak, itu tidak sepenuhnya benar.

Sulit memang untuk melihat apakah seorang teman bisa disebut sebagai sahabat, atau tidak. Tapi setidaknya, cobalah untuk bersikap baik kepada semua orang, jadilah sahabat bagi semua temanmu, agar kamu tak menyakiti hati siapapun yang bisa jadi salah satunya adalah sahabatmu. Dan jika kamu merasa sudah menemukannya, maka jagalah sahabatmu hingga kau tak mampu lagi membuka matamu #tsahhhh.

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY