Home Random / Opini Sebuah Penerbangan Yang Penuh Drama

Sebuah Penerbangan Yang Penuh Drama

1906
2
SHARE

Sebuah Penerbangan Yang Penuh Drama – Oke, sebenernya judul ini tuh sedikit hiperbola alias dilebih-lebihkan. Tapi gapapa sih ya, yang penting emang beneran ada drama nya. Awalnya sih aku pengen judul artikel ini pake bahasa Inggris biar lebih greget gitu, tapi aku takutnya nanti yang ngebaca malah bukan orang endonesah Indonesia, jadi yaa aku ganti aja judulnya ke bahasa Indonesia. Lagian nanti kalian gak ngerti lagi kalo aku pake bahasa Inggris :p

Kejadian yang cukup mengesalkan tapi sekaligus seru ini berawal ketika kami para rombongan dari Jogja pulang dari acara launching ASUS Zenfone 2 yang berlangsung di Jakarta. Kami yang berjumlah.. Bentar bentar, ngitung dulu.. Satu, dua, tiga, empat, duhh, banyak deh! Aku gak sempat ngitung kemaren (-__-“). Kami yang berjumlah banyak orang itu berada dalam satu pesawat yang sama untuk menuju bandara Adi Sucipto di Yogyakarta. Semua berjalan lancar di awal, sekitar jam setengah 9 pagi kami sudah berada di terminal 2 bandara Soekarno-Hatta Cengkareng dan jam 9.50 pagi sudah naik ke pesawat.

Kami pun sempat berfoto di dalam pesawat, meski kata “kami” disini gak termasuk aku di dalamnya. Mereka sengaja aku foto sebagai kenang-kenangan dan pastinya bahan postingan di blog ini donk! Oia perkenalkan, yang paling dekat atau yang duduk di sebelahku itu namanya mbak Rian Nofitri dari ranssoul.com, terus ada mbak Eva dari Radar Jogja, mas yang di deket jendela itu namanya Rinto Ari dari Tribun Jogja, terus mas yang ditengah itu.. Duh aku lupa! Bentar tak nanya dulu.. Oia itu namanya mas Tri dari Koran Merapi. Sebenernya ada lagi yang lainnya seperti Om Yahya dari yahyakurniawan.net, dua mas-mas dari TA TV dan juga mas-mas yang lain yang aku lupa namanya. Hihi maap yaa *sungkem dulu*

Pesawat mulai bergerak untuk menuju landasan pacu, tapi kemudian kembali lagi karena si om pilot berkata bahwa terdapat sedikit masalah pada pesawat sehingga harus kembali ke parkiran pesawat untuk diperiksa dan diperbaiki. Beberapa menit berselang, om pilot kembali menginformasikan bahwa kami para penumpang harus kembali ke ruang tunggu di bandara karena akan dilakukan pergantian pesawat. Mungkin biar gak kelamaan nunggu kali ya, soalnya dulu aku juga pernah mengalami kejadian yang mirip kaya gini waktu naik Air Asia dari bandara Ngurah Rai Bali menuju bandara Soekarno Hatta Cengkareng (Jakarta) dan walhasil delay nya jadi 2 jam! sekitar 45 menit perbaikan dan sisanya menunggu ijin terbang dari pihak bandara.

Lanjut yaa. Kondisi masih aman terkendali, para penumpang gak ada yang protes apalagi sampe panik dan membatalkan penerbangannya seperti waktu kejadian di Bali itu. Setelah kembali ke ruang tunggu, kami harus plonga-plongo selama kurang lebih 30 menit disana. Dan setelah itu kami para penumpang kembali dipersilahkan untuk naik ke pesawat.

Pengalaman naik garuda indonesiaSarang burung besi Garuda Indonesia

Kali ini tidak ada hambatan seperti sebelumnya, dan si Garuda pun lepas landas dengan mulus. Snack Time! Mbak-mbak pramugari yang cantik namun tak mampu merebut hatiku dari mbak-mbak perangko itu pun memberikan snack dan juga minuman kepada kami. Nom nom nom. Snack yang bungkusnya tidak bisa dimakan itu pun dihabiskan oleh para predator yang menumpang pesawat. Tidak lama berselang, si om pilot sudah mulai ngasih kode-kode ke mantannya pihak bandara untuk ijin mendarat. Wah aku udah seneng nih! Soalnya aku udah rencanain setelah ini aku bakal beli ayam geprek di sebelah Pamela, terus tidur bentar, terus utak-atik si Zenfone 2 balu ini deh! Ihiw *seneng*.

Tapi kemudian aku menyadari ada sesuatu yang aneh. Kok ini pesawat ketinggiannya gak berkurang ya? Padahal kan biasanya gak lama setelah kode-kode dari pilot itu ketinggian bakal diturunkan buat siap-siap mendarat. Lhah ini? Kemudian kecurigaanku itu terbukti setelah si om pilot menginformasikan pada kami bahwa pendaratan harus ditunda sekitar 30 menit karena padatnya lalu lintas udara di bandara Adi Sucipto. Lhah, delay lagi?

Satu hal yang perlu kamu tau bahwa sebelumnya ketika kami berangkat dari Jogja ke Jakarta 2 hari sebelum ini, alasan yang sama juga diberikan oleh pihak bandara Adi Sucipto (lalu lintas udara padat karena adanya aktivitas militer, latihan terbang dll) sehingga semua penerbangan harus tertunda termasuk penerbangan kami. Yups, jadilah ini delay part 2 bagi kami. Pergi delay, pulang delay. Ah tapi sudahlah, dibawa seneng aja. Lagian kapan lagi kita keliling/muter-muterin Jogja naik pesawat? Jarang-jarang kan? Dengan sugesti seperti itu rombongan kami pun kembali merasa senang. Atau cuma aku aja ya yang seneng? Entahlah. Wkwkwkwkwk.

Sedikit saran nih buat kamu yang mau dateng atau pergi ke Jogja. Lebih baik cari penerbangan yang pagi banget sebelum jam 8 atau sore sekalian (diatas jam 5) soalnya biasanya di jam-jam itu jarang ada delay. Ini juga kebetulan aja aku berangkatnya agak siang, jadi baru tau kalo ternyata di jam ini delay nya parah begini. Yaa maklum aja bandara Adi Sucipto ini kan sejatinya adalah bandara untuk militer, jadi kita harus ikutin aturan mainnya donk!

Hal janggal yang lain kembali terjadi. Ini kita udah muter-muterin Jogja sampe sejam tapi kok belum ada tanda-tanda mau mendarat sih ya? Kejanggalan pun makin terlihat ketika pesawat justru menambah kecepatan dan menambah ketinggian. Lhah piye toh? Nggak lama setelah itu om pilot kembali menyapa kami yang mulai lapar ini.

Penumpang yang terhormat, kami terpaksa harus mengalihkan penerbangan dari Yogyakarta menuju bandara Juanda di Surabaya karena adanya cuaca buruk di bandara Adi Sucipto sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan. *dan kemudian hening*

Hihi lucu aja, dari Jakarta ke Jogja, tapi mampir ke Surabaya dulu dalam keadaan laper. Beberapa penumpang mulai gelisah termasuk mbak-mbak yang duduk di sebelahku (mbak Rian Nofitri). Mereka gelisah karena harus antri ke kamar kecil di bagian belakang pesawat. Pendaratan di bandara Juanda berjalan lancar tanpa hambatan, dan kami pun bergerak menuju ruang tunggu bandara dengan masih dalam keadaan laper.

Para penumpang yang berjalan setelah turun dari pesawat untuk mampir ke bandara Juanda. Eh tapi bentar, kok ada yang janggal ya? Zoom dikit ah

Lhah mas-mas ini naik pesawat bawa helm? Super sekali! Safety first ya mas! Biar gak kena tilang.

Wkwkwkwk jangan di seriusin ah, mungkin mas ini ke bandaranya naik motor terus motornya di titipin di bandara. Dan karena takut helm nya ilang, jadilah itu helm dibawa juga ke pesawat. Iya, mendingan gitu daripada harus ilang helm nya. Kan repot nanti kalo ternyata beneran ilang!

Setelah turun kami sempat hampir salah masuk dan akhirnya digiring ke tempat yang semestinya. Dan pastinya kita harus nunggu lagi sampe cuaca di Jogja diperbaiki membaik.

Kami kemudian duduk di ruang tunggu dalam keadaan masih lapar. Namun nampaknya pihak Garuda mengerti bahwa kami kelaparan karena ini sudah mulai siang bahkan menjelang sore (jam 3an). Kami dipersilahkan untuk mengambil makanan yang sebenarnya bukan disiapkan untuk kami, dan para penumpang yang kelaparan pun langsung menyerbu makanan yang ada.

Antri demi sesuap nasi

Sayangnya stok makanan yang ada tidak mencukupi untuk semua penumpang karena memang makanan tersebut tidak dipersiapkan untuk kami. Dan ketika antrianku hampir tiba, yang terjadi adalah

Makanannya abis!

Alamak makin panjang sudah durasi kelaparan ku dan beberapa penumpang yang gak kebagian. Beberapa makanan lain yang tersedia seperti roti pun sudah ludes diserbu oleh penumpang yang lapar termasuk oleh mbak Rian Nofitri. Dan yang tersisa hanyalah

Garam 😐

Hehe, kamu mau nyemilin garem? Aku sih nggak. Ngenes ya? Saking ngenesnya si om Yahya pun sampe harus nyemilin emping ama kerupuk. Wkwkwkwkwk. Lengkap sudah penderitaan kami (yang gak kebagian makan). Ah sudahlah aku kembali duduk saja. Sekitar 30 menit berlalu akhirnya kami kembali disapa oleh mbak-mbak yang ada di bandara untuk kembali ke pesawat.

Untungnya kami para rombongan yang diundang oleh ASUS ini termasuk orang-orang yang humoris, jadi kami masih bisa ketiwi-ketiwi walaupun rasa lelah dan lapar melanda #halah. Kali ini aku menikmati penerbangan dengan hanya tidur saja karena efek kolaborasi antara lelah dan lapar. Mbak-mbak pramugari kembali memberikan snack kepada kami berupa roti, tapi aku memilih untuk membawanya pulang saja karena sudah enek sama roti 😐

Awan mendung terlihat dari jendela pesawat, dan beberapa goncangan kecil beberapa kali terjadi akibat pergaulan bebas pergesekan antara pesawat dengan awan. Yah setelah melihat awan yang warnanya tidak putih itu aku pikir ini pesawat bakalan muter-muter lagi deh. Tapi ternyata aku salah. Aku minta maaf yaa #eh. Pesawat yang tadi sempat isi bensin di bandara Juanda ini akhirnya mendarat dengan mulus di bandara Adi Sucipto Yogyakarta tanpa hambatan.

Akhirnya sampai juga! Alhamdulillah :’)

Kami mendarat di Jogja sekitar jam 5 lebih 10 menit di sore hari. Hemm perjalanan yang cukup lama ya, padahal cuma dari Jakarta ke Jogja. Naik pesawat pulak! Tapi gapapa sih, yang penting semua penumpang selamat sampai tujuan. Dan ini adalah saatnya kami berpisah untuk kembali ke dunia masing-masing. Dadah semuanya sampai jumpa lagi *lambaikan tangan ke kamera*.

Drama penerbangan yang terjadi sekitar 7 jam itupun berakhir sudah setelah kami berjalan keluar dari pesawat. Planning yang sudah aku buat tadi pagi pun baru bisa terlaksana sekitar jam 7 malam. Naik Trans Jogja ke rumah temen buat ambil motor, baru deh beli ayam geprek. Dan kemudian istirahat.

Oia, semua foto diatas diambil menggunakan kamera dari ASUS Zenfone 2. Kalo kamu penasaran dengan hasil gambar yang lainnya, silahkan intip di posting blog ku yang satunya lagi.

2 COMMENTS

  1. Kak mohon ijin artikelnya untuk bahan novel saya boleh? Hehe
    Kayaknya cucok kalau di ceritanya ada delay” di udara wkwk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here