Home Daily Life Mimpi Yang Berbeda

Mimpi Yang Berbeda

789
0
SHARE

Mimpi Yang Berbeda – Siapa yang menyangka, transaksi jual beli smartphone di sore itu ternyata adalah awal dari persahabatan kita. Aku tak pernah mengira bahwa tak sampai seminggu kemudian, kita dipertemukan kembali di sebuah tempat makan, saat sedang sama-sama menunggu teman untuk janjian.

Beruntung sekali saat itu teman-teman yang seharusnya datang menemui kita sama-sama datang terlambat, sehingga memberikan kita kesempatan untuk berbincang dan saling mengenal.

Kita menemukan banyak kesamaan di pertemuan itu. Dalam sekejab saja, kita sudah mengakrabkan diri. Beberapa tahun sudah sejak pertemuan itu, sudah banyak sekali suka dua yang kita lewati bersama. Mulai dari problematika di tanggal tua, hingga traveling bersama ke berbagai tempat baru.

Ya, kamu memang sedikit berbeda dari gadis lain yang pernah aku kenal. Simpel, dan sangat mandiri, dua hal yang membuatku diam-diam menaruh kagum padamu. Hal yang paling aku ingat adalah bagaimana selepas traveling, kamu mampu me-manage barang bawaanmu tiap kali akan kembali terbang ke kota tempat kita tinggal.

Disaat temanmu yang lain harus disibukkan dengan beberapa bawaan berupa tas berisi pakaian dan oleh-oleh, kamu hanya membawa satu bawaan saja, kamu dan koper branded kesayanganmu. Entah apa yang lucu, tapi hal sederhana itu mampu membuatku tersenyum sendiri saat memperhatikan betapa kontrasnya kamu dengan teman-temanmu itu, membuatmu nampak makin istimewa dimataku.

Lebih Dari Sekedar Sahabat

Mereka bilang, kita serasi. Mereka bilang, kita cocok. Dan mereka bilang, seharusnya kita ini punya hubungan yang lebih dari sekedar teman. Ya, itu yang mereka bilang. Tapi, aku dan kamu lebih tau, bagaimana kamu menjaga dirimu agar tidak berpacaran.

Tolong jangan ajak aku berpacaran. Tapi kalau kamu sudah siap, silakan lamar aku.

Aku sadar, bahwa aku belum cukup pantas untuk menjadi pasangan hidupmu. Maka, memendam kagum kurasa masih menjadi pilihan terbaik.

Hingga Akhirnya, Hari Itupun Tiba

Semua orang tau bahwa kamu sangat cerdas, tak aneh rasanya jika kamu lulus mendahului teman-temanmu. Kamu bilang, orangtuamu akan hadir saat wisuda nanti.

Putuskan sekarang, sebelum semuanya terlambat..

Ucapannya itu meninggalkan sebuah penyesalan yang mendalam bagiku. Belakangan aku baru tau bahwa dia akan melanjutkan studi di negeri seberang.

Aku nggak bisa janji apakah aku bakal nungguin kamu, atau nggak. Kalau kita memang jodoh, kita pasti dipertemukan lagi. Tapi kalau nggak, tolong ikhlaskan aku.

Aku terdiam, dan hanya memilih untuk diam. Sebuah semangat, sekaligus penyesalan aku rasakan dalam waktu yang sama. Aku tak boleh bermain-main lagi!

Kita pergi ke bandara sekali lagi, dan mungkin untuk yang terakhir kali, karena aku tau kamu takkan kembali kesini. Kamu pergi, bersama dengan mimpimu yang tak hentinya kau kejar.

Mimpi yang berbeda
Image source: Pixabay

Setahun berlalu sejak kepergian itu, kudengar kau telah dilamar. Tak lupa kau pun mengundangku untuk turut hadir dalam hari bahagiamu yang sudah kau rencanakan bersamanya. Tak kuasa rasanya, saat aku membaca pesan itu langsung dari kamu.

Hanya bisa menyesal, menyesali bodohnya aku yang terlalu lama bermain-main, hingga harus kehilangan seorang gadis yang teramat istimewa sepertimu. Mungkin dahulu, mimpi kita pernah satu. Namun pada akhirnya, kita sendiri jugalah yang harus memutuskan apakah akan tetap menjaga mimpi itu, atau mengejar mimpi yang lain.

————- * * ————-

Kebayang gimana nyeseknya kalo kamu jadi si cowok? Atau mungkin, kamu sendiri pernah mengalami hal yang mirip seperti itu? Hemm, yang sabar ya, Nak. Menyesal boleh, tapi lebih baik lagi kalo misalnya penyesalan itu kamu jadikan pelajaran buat hidupmu kedepannya.

Iya, ini adalah salah satu contoh gimana ruginya kita kalau sering menunda-nunda sesuatu, terinspirasi dari salah satu temanku yang kuliahnya nggak kelar-kelar, sementara temen-temennya udah pada wisuda. Tapi dalam hal ini, aku bikin gimana supaya nyeseknya lebih greget daripada sekedar ditinggal temen wisuda duluan.

Sebenernya aku juga pernah bikin sebuah cerita soal ruginya kita saat sering menunda sesuatu di posting yang ini. Tapi aku pengen, gimana supaya contoh dari ceritanya itu lebih ngena dengan cara dibikin mirip dengan keadaan kita sehari-hari. Semoga setelah ini, kamu nggak rajin menunda apa yang jadi kewajibanmu yaa. Supaya kamu nggak merugi. Semoga bermanfaat! 🙂

SHARE
Blogger lugu yang kadang punya rasa penasaran tinggi | Founder techijau.com & hayuklah.com | Main IG di @masbocah kadang main twitter juga di @PanduDryad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here