#PojokWBidol Menyerah Bukan Pilihan! (Motivasi Ketika Putus Asa)

#PojokWBidol Menyerah Bukan Pilihan! (Motivasi Ketika Putus Asa)

260
0
SHARE

#PojokWBidol Menyerah Bukan Pilihan! (Motivasi Ketika Putus Asa)“Letih hati, lelah jiwa, meremukkan sukma. Namun aku tak mungkin menyerah”. Sepotong syair dari lagu berjudul Roda Kehidupan milik grup band legendaris Indonesia, God Bless. Sebuah lagu yang menggambarkan betapa kerasnya kehidupan nyata hingga mampu membuat orang merasa putus asa untuk menghadapinya.

Aku masih ingat ketika aku masih kecil dulu, dengan polosnya ku pikir aku bisa hidup tanpa “rasa sakit dan derita”. Aku berangan-angan bahwa jika aku sudah besar nanti, aku ingin sekolah, lulus, bekerja di kantor, lalu membeli rumah, menikah dan kemudian hidup bahagia bersama keluarga. Ah, andai bisa semudah itu. Tapi tunggu, masih kecil sudah berpikir soal keluarga? IYA! Istimewa bukan? Wkwkwkwkwkwk :v

Hidup di dunia nyata memang tak semudah yang dibayangkan, dan seiring berjalannya waktu kita akan dihadapkan dengan berbagai masalah yang akan mewarnai hidup kita. Aku sudah terbiasa mendengarkan keluh kesah orang-orang disekitarku soal permasalahan hidup yang mereka hadapi, mulai dari masalah sepele hingga masalah yang amat sangat rumit. Sebagian dari mereka cukup tegar dan dewasa untuk menghadapi hidupnya yang rumit, namun sebagian lain bahkan merasa tak mampu untuk sekedar melangkah menjauhi rumahnya.

Tidak sedikit dari mereka yang meminta pendapatku soal permasalahan mereka, dan sebagai pendengar yang baik tentu aku memberikan dorongan pada mereka supaya nyemplung ke jurang. Tapi yang sering kali membuatku kesal adalah mereka justru mencari sangkalan atas saran dariku :

Mereka : “Ah kamu kan gak pernah galau, jadi gampang aja kamu bilang begitu”. “Kamu gak pernah ngerasain hal yang sama kaya aku sih, jadi kamu gak tau kan gimana sulitnya jadi aku?”

Aku : “Hiiihh, maunya apa sih?! Katanya minta saran, tapi dikasih tau malah ngeyel!”

Ehehe, iya, beberapa teman dekatku memang pernah berkata demikian. Mungkin karena aku lebih sering nampak seperti orang yang ceria dan cengengesan dihadapan mereka. Tapi mereka tidak tau bahwa justru aku memilih jadi orang cengengesan seperti sekarang karena aku sudah bosan mengeluh soal hidupku! Mungkin mereka tidak akan percaya bahwa aku sudah banyak melewati masa sulit yang lebih dari sekedar diselingkuhi pacar, ditinggal nikah atau apapun yang sering kali mereka keluhkan. Mungkin mereka juga tidak akan percaya bahwa akupun pernah mengalami masa dimana aku merasa ingin menyerah untuk hidup, ketika aku harus kehilangan hampir semua yang kumiliki.

Could this be the end? Is this the way i die?

Tapi syukurlah, aku selalu dapat menemukan motivasi baru yang mampu membangkitkan semangatku untuk bisa bangkit kembali. Bukan dari motivator terkenal, tetapi dari hal yang lebih sederhana.

1. Orang-orang disekitarku

Saat aku merasa putus asa, saat aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling malang sedunia, semesta selalu membuktikan bahwa aku salah. Ternyata memang masih banyak sekali orang-orang yang berada “dibawahku”. Ada banyak sekali orang-orang yang memiliki beban yang jauh lebih berat daripada aku. Bahkan masih banyak orang yang harus berjuang setengah mati hanya untuk bisa bertahan hidup.

Aku pernah melihat seorang nenek yang tinggal di suatu pasar di Yogyakarta, dan aku tau ia juga berjualan di pasar itu dengan barang dagangan yang benar-benar “apa adanya”. Ya, menurut orang-orang sekitar, nenek ini memang benar-benar hidup dan tinggal sebatang kara di pasar tersebut. Ketika pasar sudah sepi, ia nampak seorang diri terbaring disana untuk beristirahat. Terkadang, ia tak memiliki cukup uang untuk sekedar membeli makanan dan hanya mampu membeli teh hangat di angkringan sebrang jalan.

Bayangkan bagaimana kesepian yang dirasakan si nenek di usianya yang senja itu? Bagaimana ia menahan lapar ketika tak mampu untuk membeli makanan? Bagaimana ia menghadapi dingin ketika malam tiba? Ah, nenek ini benar-benar membuatku merasa sangat malu terhadap diri sendiri. Dan dari situ aku sadar, bahwa penderitaanku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nenek ini. Jadi pantaskah aku mengeluh? Pantaskah aku merasa putus asa? Tidak! Aku masih cukup beruntung karena masih memiliki beberapa hal yang bisa aku manfaatkan sebagai “modal” untuk bertahan hidup. Dan yang paling sederhana, aku masih memiliki keluarga sebagai tempatku untuk pulang.

Sesekali kita memang mesti menengok kebawah agar kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki. Hal ini juga sekaligus dapat menjadi sebuah semangat baru bagi kita, agar kita berusaha untuk menghindari penderitaan yang sama seperti yang mereka alami. Yups, sesederhana itulah caraku memotivasi diri.

2. Ayahku

Aku semakin merasa tak pantas untuk menyerah karena aku memiliki ayah yang luar biasa. Bukan seorang ayah yang kaya raya, hanya seorang ayah yang bertanggung jawab dan tak hentinya memberi support positif pada anaknya yang keras kepala ini. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana ayahku menjadi satu-satunya orang yang menaruh kepercayaan penuh sekaligus memberi support padaku ketika semua orang meninggalkanku (ya, semua orang!) saat aku berusaha meraih sesuatu yang mereka anggap mustahil untuk kuraih.

Bahkan ketika aku berhasil mencapai puncak dan kemudian terjatuh lagi, ayahku seakan tak bosan untuk menawarkan bantuannya. Jadi tentu saja, menyerah bukanlah pilihan untukku. Aku tidak ingin membuat ayahku kecewa, aku tak ingin menjadi anak manja yang hanya bisa mengeluh! Ayahku menjadi alasan terkuat bagiku agar aku bisa bangkit kembali. Aku ingin membalas jasa-jasanya padaku, aku ingin membayar lunas kepercayaan yang telah ia berikan padaku. Dan aku ingin membuatnya bangga! Akan sangat berdosa rasanya jika aku menyia-nyiakan apa yang telah ayahku perjuangkan untukku, jika aku menyerah pada keadaan.

Akhir kata. . .

Menurutku, hanya orang-orang yang lemah yang menyerah pada keadaan. Dan hanya anak-anak manja yang tak mau beranjak dari kemalangan yang menimpanya. Tak perlu menunggu angin perubahan karena seharusnya kita sendirilah yang mampu merubah keadaan kita, dimulai dari sebuah langkah kecil untuk perubahan yang besar.

Ingatlah, masih banyak orang yang masih terus dan harus berjuang pada keadaan yang mungkin tak bisa kau bayangkan. Ingatlah, bahwa kita masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Dan kalaupun kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi, setidaknya kita masih memiliki hidup untuk diteruskan.

Tulisan ini dibuat untuk tantangan Pojok WB Idol

Bonus :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY