Home Daily Life Hidup Dan Pilihan (Jalan Penuh Duri)

Hidup Dan Pilihan (Jalan Penuh Duri)

1164
0
SHARE

Hidup Dan Pilihan (Jalan Penuh Duri) – Memutuskan sebuah pilihan memang bukanlah hal yang mudah, yaa setidaknya itulah yang dirasakan oleh “eNcup”, salah satu pembaca di blog ini. Dia juga yang secara gak langsung “memaksa” mimin Patrick untuk menulis posting kali ini setelah sekian lama mimin gak posting di blog Anti Galau ini (sekarang menjadi blog Masbocah) karena kesibukan mimin untuk mencari jodoh #eh, cari rejeki maksudnya :P.

Setiap manusia yang hidup pasti akan dihadapkan oleh pilihan, entah disadari atau tidak. Misalnya, setelah lulus SMP mau pilih masuk SMA atau SMK? Atau mungkin pengen kembali ke SD atau TK? Yaa itu adalah pilihanmu. Begitupun dengan hal yang lain, khususnya untuk remaja-remaja jaman sekarang ini memilih pasangan (pacar) adalah pilihan yang sangat sulit dan sering kali bikin mereka galau. Memang untuk hal yang satu ini gak boleh sembarangan, karena kalau kita salah pilih bukan gak mungkin kita bakal sakit hati. Apalagi kalau sampai berlangsung lama, bisa sakit hati berkepanjangan yang rasanya itu. . . Seperti membunuh diri kita pelan-pelan.

Tapi pada posting kali ini mimin gak akan bahas soal pacar atau pasangan pada khususnya, tapi lebih ke pilihan secara umum biar sesuai sama judulnya yaitu “Hidup dan pilihan”. Ada yang bilang, hidup itu seperti sebuah kertas, awalnya kosong, lalu diisi dengan cerita-cerita hidup yang lama kelamaan akan semakin penuh, dan pada akhirnya kertas itu akan menemui saat dimana ia tak akan digunakan lagi. Tapi mimin lebih suka menganalogikannya sebagai “jalan”.

Ya, hidup itu seperti kita dalam perjalanan. Kita mulai dari titik “A” yang merupakan awal dari perjalanan kita (baru lahir kedunia) yang menuju ke titik “B” tempat kita akan tinggal dan berdiam nantinya (saat sudah expired #eh, meninggal, maksudnya). Dalam perjalanan itu kita tentu akan menemui banyak tikungan, banyak persimpangan dan banyak sekali tantangan tergantung ke arah mana kita akan menuju. Ada yang memilih jalan yang berliku, ada yang memilih jalan menanjak, ada yang memilih jalan yang penuh duri dan ada pula yang memilih jalan pintas.

Dia yang memilih jalan pintas dalam arti bunuh diri, tentu akan lebih cepat sampai pada titik “B”, dimana dia tidak akan menemui banyak rintangan karena waktu dari perjalanannya yang singkat. Namun dia sudah pasti telah melewatkan “keindahan” dalam perjalanan tersebut. Disini mimin akan khusus membahas tentang jalan penuh duri mengingat masih banyak remaja yang tersesat di jalan ini. Sudah pasti ini adalah gambaran untuk mereka yang memilih hidup dalam kesakitan, kesedihan dan tangisan.

Mereka yang terlanjur melalui jalan ini biasanya penuh keputus-asaan, dan tidak sedikit yang memilih untuk melewati “persimpangan” menuju jalan pintas karena merasa “terlalu lelah untuk berjalan”. Coba pemirsa perhatikan, berapa banyak orang yang bunuh diri karena sedih? Banyak sekali. Itu karena mereka berpikiran bahwa tidak ada jalan lain yang lebih baik dibanding jalan pintas, dan menganggap bahwa jalan pintas adalah yang terbaik karena mereka bisa mengakhiri perjalanan (penderitaan) mereka dengan cepat. Padahal Tuhan telah memberikan banyak pilihan jalan lain.

Ya, Tuhan senantiasa memberi kita kebebasan untuk menentukan pilihan kita sendiri, jalan mana yang akan dipilih. Dengan catatan segala resiko atau konsekuensi dari tiap jalan yang dipilih, akan ditanggung sendiri. Dan bagi kamu yang terlanjur melalui jalan penuh duri, jangan pernah menganggap bahwa Tuhan membencimu karena harus menanggung derita yang panjang. Ia telah membebaskanmu untuk memilih, dan kamu sendiri yang memutuskan untuk melalui jalan penuh duri itu.

Lalu jangan salahkan Tuhan karena dia tak mengabulkan doa mu agar segera menolongmu dari kesakitan dan derita, karena Ia telah menolongmu tanpa kamu sadari. Ia senantiasa menunjukkan “jalan lain” (pilihan lain) yang bisa kamu lalui, namun kamu tetap memilih untuk melalui jalan penuh duri sehingga kau terus menderita karena kesakitan. Ya, sebenarnya kita bisa kapan saja berpindah ke jalan yang lain yang lebih baik. Jika kamu ingin mengakhiri segala derita yang kau alami selama ini, maka laluilah persimpangan yang disediakan oleh-Nya.

Tiap persimpangan akan menawarkanmu sebuah cerita yang baru, cerita yang bisa saja lebih baik atau lebih buruk tergantung jalan mana yang kau pilih (sekali lagi). Jangan takut untuk memulai cerita baru, jangan takut untuk memilih jalan yang baru. Jika nantinya kamu tersesat lagi, kamu hanya perlu menyeberang ke jalan yang lain pada persimpangan selanjutnya. Sangat simple bukan?

Memang, “berpindah ke jalan lain” tidak semudah yang dikatakan terutama bagi kamu yang sudah “terlanjur nyaman” dengan jalan penuh duri itu. Tapi apakah kamu mau merasakan kesakitan seumur hidupmu? Apakah kamu tidak ingin bahagia? Ingat, setiap orang berhak untuk bahagia, termasuk kamu. Janganlah sia-siakan pilihan yang lebih baik sebelum kamu sampai ke titik “B”, dimana perjalananmu akan berakhir.

Pilihlah yang terbaik untuk hidupmu, hargailah Tuhan yang telah menciptakanmu dengan menyayangi dirimu sendiri. Hargai Ibumu yang sudah melahirkanmu dengan membahagiakan dirimu. Jadi, carilah jalan terbaikmu selagi kamu masih sempat 🙂

Hidup ini singkat loh, masa mau galau terus? Nggak donk! 🙂 Silahkan dicerna, dan semoga bermanfaat 🙂 – Mimin Patrick a.k.a Masbocah

SHARE
Blogger lugu yang kadang punya rasa penasaran tinggi | Founder techijau.com & hayuklah.com | Main IG di @masbocah kadang main twitter juga di @PanduDryad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here