Home Random Memperjuangkan Seseorang Yang Tidak Mengenal Kita

Memperjuangkan Seseorang Yang Tidak Mengenal Kita

592
0
SHARE

Memperjuangkan Seseorang Yang Tidak Mengenal Kita – Namaku Agung, aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang sedikit berkekurangan. Keadaan ekonomi yang demikian membuatku harus tinggal dengan saudaraku dimana ia sering kali berpindah-pindah kota sehingga akupun sering kali berpindah sekolah dan harus selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Waktu kecil bisa dibilang aku cukup nakal karena aku tidak suka ditindas dan entah mengapa akupun tidak suka melihat orang ditindas, sehingga tidak jarang aku mendapat masalah karena membela mereka.

Ya, meskipun badanku kecil tetapi aku tidak suka diremehkan sehingga aku yang belum dewasa itu berpikir bahwa dengan menjadi anak nakal akan membuatku merasa lebih disegani. Namun entah mengapa di mata guru aku dianggap sebagai anak yang baik. Semakin bertambah umurku, semakin sadar pula aku bahwa kenakalanku itu tidak ada artinya dan perlahan akupun berubah menjadi anak yang pendiam ketika duduk di bangku SMP. Aku lebih memilih untuk berteman dengan orang yang dianggap culun atau cupu karena kuanggap mereka tidak akan memberikan pengaruh yang buruk terhadapku meskipun aku juga sering bergaul dengan anak-anak yang bandel.

Kenakalan remaja seperti merokok, “minum”, bolos dan lainnya juga pernah aku lakukan semasa sekolah. Namun aku tetap membatasi diri untuk tidak melakukan kenakalan yang lebih jauh. Maklumlah, hal itu aku lakukan untuk mendapatkan “pengakuan” dari teman-teman karena seperti yang aku bilang tadi, aku tidak suka diremehkan. Menjelang kelulusan SMA aku baru tersadar bahwa hal itu tidaklah bermanfaat bagiku. Pengakuan? Untuk apa? Apakah pengakuan dari mereka itu bisa merubah hidupku menjadi lebih baik? TIDAK! Toh tanpa pengakuan dari mereka aku juga masih diterima oleh teman-teman yang lainnya.

Maka sejak itu aku mulai merubah diriku dan bertekad ingin menjadi orang yang lebih baik. Aku menghentikan semua aktivitas negatif tersebut dan lebih berani untuk berkata tidak jika ada teman yang mengajakku demikian. Oh iya, aku seorang muslim dan Alhamdulillah sejak saat itu aku sering mendapatkan teguran. Loh kok malah bersyukur? Iya, teguran-teguran itu justru membimbingku untuk menjadi lebih baik. Ya, mungkin Allah sayang kepadaku sehingga aku segera ditegur ketika melakukan kesalahan. Sayangnya aku tidak bisa mengaji karena dulu aku sering berpindah-pindah dan aku malas untuk mengaji dan lebih memilih untuk bermain bersama teman-temanku. Dan kebetulan di tempatku tinggal mayoritas penduduknya non muslim sehingga cukup sulit untuk menemukan guru mengaji.

Maka aku putuskan untuk hijrah ke kota lain untuk menemukan guru yang bisa mengajariku mengaji. Setibanya di kota ini lagi-lagi aku membuat kesalahan. Aku terlalu asyik dengan kebebasanku yang baru, melalaikan pekerjaanku dan aku melalaikan misi ku untuk menemukan guru mengaji. Akhirnya akupun kembali mendapat teguran, kali ini cukup berat sehingga aku harus bekerja siang malam hanya untuk dapat menyambung hidup. Ya, ini semua memang salahku maka aku harus menerima konsekuensinya.

Aku juga tidak sempat mencari pasangan karena kesibukanku ini. Kebetulan aku sudah bertahun-tahun menjomblo dan hanya pernah berpacaran dua kali dimana kedua hubungan itu berakhir karena para mantanku menemukan orang yang lebih tampan dariku dan kemudian meninggalkanku. Hihi, ngenes ya? Aku tipe orang yang pemilih, dan aku tidak mudah untuk jatuh hati. Beberapa teman sempat mencoba “menjodohkanku” namun aku tolak mentah-mentah dan mungkin inilah yang disebut dengan jomblo belagu.

Orang baik akan memilih orang yang baik pula untuk dijadikan pasangannya, begitulah prinsip yang aku pegang sehingga aku tidak ingin gegabah dalam memilih pasangan. Lagipula aku bukanlah tipe orang yang bisa bermain-main dengan perasaan, dan aku tidak siap untuk sakit hati lagi jikalau nanti ternyata aku salah memilih orang. Aku menikmati kesendirianku sembari menunggu untuk menemukan orang yang tepat sambil berusaha bangkit kembali agar aku bisa membangun hidupku.

Memang, beberapa gadis sempat menarik perhatianku namun kubiarkan mereka berlalu karena aku merasa mereka tidak cukup baik pantas untukku (gila ini jomblo bener-bener belagu ya). Beberapa teman sempat meledekku seperti ini:

Udahh jadi jomblo gak usah sok jual mahal, nanti malah makin gak laku loh

Dan kalian pun mungkin akan berpikiran serupa. Tapi aku tetap berpegang teguh pada pendirianku dimana aku ingin memiliki pasangan yang tidak hanya menyayangiku tapi juga mampu membimbingku, mengingatkanku untuk kembali ke jalan yang benar ketika aku melenceng. Pasangan yang menyayangiku bukan karena fisikku, tapi pribadiku. Dan akupun bertekad untuk tidak memberikan kesetiaanku pada orang yang tidak pantas untuk mendapatkannya.

Hari-hari berlalu, dan tidak ada tanda-tanda bahwa aku akan menemukan gadis seperti itu apalagi aku juga cukup menutup diri alias “tidak bersikap keganjenan” pada gadis-gadis yang ku temui. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang belakangan ku ketahui bernama Nurul Aisyah (bukan nama sebenarnya #halah ). Dia memang manis, senyumnya pun menunjukkan ketulusan, dan sikapnya menunjukkan kerendahan hati. Ditambah lagi cara berpikirnya menunjukkan bahwa dia unik dan cerdas. Pertemuan yang hanya berlangsung selama beberapa menit itu sudah cukup untuk membuatku jatuh hati alias kesengsem at the first sight.

Diam-diam aku mencari tau lebih banyak hal tentang gadis ini dan hal-hal yang ku ketahui tentangnya itu semakin membuatku yakin bahwa dialah orang yang selama ini aku nantikan. Tapi aku merasa belum cukup pantas untuk bisa mendapatkannya, maka akupun bertekad untuk lebih serius untuk memperbaiki diri agar nantinya aku pantas untuk menjadi imam baginya. Ya, dia harus ku perjuangkan! Aku semakin bersemangat untuk melanjutkan misi untuk belajar mengaji untuk memperdalam ilmu agama ku. Aku ingin menjadi imam yang baik baginya, dan aku tidak ingin tergesa-gesa untuk mengungkapkan perasaanku sebelum aku memperbaiki dan memantaskan diriku untuknya!

Akupun termotivasi untuk segera bangkit agar nanti aku bisa membangun hidupku bersamanya. Selain merasa belum cukup pantas, aku juga tidak ingin memberikan janji-janji untuk ini itu karena semua orang pun bisa berjanji demikian bukan? Maka aku berpikir bahwa akan lebih baik jika aku mengungkapkan perasaanku dan langsung melamarnya ketika aku sudah menyelesaikan misi-misiku itu. Aku ingin memberikan bukti bahwa aku memang pantas untuknya. Tapi apakah aku berlebihan? Aku memperjuangkannya sedangkan dia bahkan tak mengenal namaku.

Dan bagaimana jika nanti dia menolak lamaranku? Tidakkah perjuanganku nantinya akan sia-sia? Kurasa tidak. Aku kira perjuangan ini memang pantas untuk dilakukan karena dia memang pantas untuk diperjuangkan. Lagipula jikalau nantinya dia tidak mau menjadi pendampingku, setidaknya dia sudah memberikan satu motivasi yang sangat positif untukku, untuk membangun hidupku sendiri. – Masbocah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here