Ketika Masa Lalu Memintaku Kembali

Ketika Masa Lalu Memintaku Kembali

643
0
SHARE

Ketika Masa Lalu Memintaku Kembali – Aku Fajar, cowok sederhana dengan berbagai kekurangan yang saat ini sedang menjomblo selama hampir 4 tahun. Aku berprofesi sebagai seorang penulis sekaligus wirausahawan, dan aku sering berpindah-pindah kota untuk mencari inspirasi ataupun sekedar “piknik” untuk menyegarkan pikiran. Aku memang sangat menikmati kesendirianku ini, bebas tanpa harus khawatir akan ada seseorang yang marah atau cemburu ketika aku pergi dengan siapapun.

Aku sama sekali tidak berpikir untuk mencari pacar atau pasangan, hingga aku bertemu dengan seseorang bernama Alya di satu kota kecil beberapa bulan lalu. Seorang gadis cerdas yang belum lama ku kenal namun mampu menarik perhatianku atas kerendahan hatinya. Entah kenapa aku yang biasanya cuek ini tiba-tiba ingin mengenal gadis ini lebih dekat, namun aku tak berani melakukannya secara terang-terangan karena aku rasa memang dia ini bukanlah gadis sembarangan yang mau di dekati oleh cowok “sembarangan” seperti aku.

Bisa dibilang aku ini secret admirer dari Alya. Hehe, lucu ya? Jaman sekarang masih ada yang beginian. Kebetulan memang aku ini adalah cowok pemalu yang tidak terbiasa untuk mendekati lawan jenis, tapi aku masih normal kok. Bener deh! Semakin aku mengenalnya, semakin aku dibuat kagum olehnya. Kepeduliannya terhadap sosial, sikapnya terhadap orang-orang disekitarnya, taatnya ia terhadap agamanya membuatku berpikir bahwa

Kamulah orang yang aku cari selama ini, pasangan untuk hidupku kelak

Setahun belakangan memang aku memutuskan untuk “berhijrah”, dalam arti berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan berusaha untuk mendekatkan diri pada sang pencipta agar aku menjadi pribadi yang lebih baik. Dan salah satu alasan mengapa aku tetap menjomblo adalah untuk menghindari hal-hal yang diinginkan oleh setan.

Aku tidak akan menjadi orang yang baik jika aku masih mempertahankan hal-hal yang buruk di dalam hidupku

Begitu pikirku waktu itu. Aku memang punya masa lalu yang cukup kelam, begitu banyak dosa dan keburukan yang aku perbuat. Aku bosan berbangga diri atas dosa-dosaku, aku bosan berbangga diri atas segala keburukanku dan aku memutuskan untuk mengakhiri semua itu dengan memperbaiki hidupku. Ternyata memang hidup di jalan yang positif itu menyenangkan, meski memang banyak rintangannya tapi tak sesulit yang dibayangkan.

Dan aku merasa bahwa Alya adalah orang yang tepat untuk dapat menyempurnakan hidupku, orang yang bisa aku ajak untuk menemaniku berjalan menuju hal-hal yang baik. Akupun berencana untuk bisa menikahi Alya, namun aku masih harus memperbaiki banyak hal, kepingan-kepingan kesalahan di masa lalu yang membuatku merasa belum cukup pantas untuk gadis sebaik Alya. Suatu ketika sebuah musibah datang menimpaku. Usaha yang selama ini aku bangun mendadak kolaps karena kesalahan management, aku kehilangan banyak harta dan modalku pun sudah habis.

Dengan sangat terpaksa aku kembali ke kota tempat orangtuaku tinggal. Ah semakin tidak pantas rasanya jika aku memaksakan untuk menikahi Alya dengan keadaanku sekarang. Tak lama berselang, seseorang yang telah lama pergi dari hidupku tiba-tiba datang menemuiku. Ia adalah Lia, mantan pertamaku, seorang mantan yang paling sulit aku lupakan. Entah darimana ia mengetahui kedatanganku setelah sekian lama aku berkelana di kota lain, namun yang pasti pertemuan itu membuat hatiku bergejolak, mengingatkanku kembali pada masa lalu.

Kami memang sudah saling menyukai sejak SD, namun kami baru berpacaran ketika duduk di bangku SMA. Kami pun bercerita tentang apa saja yang kami lewati setelah tidak lagi berpacaran, hingga ketika aku bercerita tentang musibah yang baru saja aku lalui, tiba-tiba ia berkata..

Gimana ya kalo kita balikan? Toh kamu sekarang lagi gak punya pacar kan?

Apa? Balikan? Aku terdiam sejenak karena sedikit tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Belum sempat aku bicara ia kembali melanjutkan perkataannya bahwa ia menyesal telah meninggalkanku, ia berjanji untuk setia kepadaku dan akan menuruti semua yang aku mau. Dia juga berkata bahwa ia akan membantuku membangun kembali usahaku dengan harta yang dimiliki oleh orangtuanya. Jantungku berdetak begitu kencang seraya mendengar perkataan itu, dan semakin sulit aku mempercayai bahwa hal ini benar-benar diucapkan dari seorang mantan yang paling aku sayangi.

Tak sepatah kata keluar dari mulutku. Masih tidak percaya seraya berfikir, haruskah aku menerimanya? Dua sisi diriku seakan saling berdebat, mencoba memberi pendapat agar aku dapat mengambil keputusan.

Dia mantan yang paling kamu sayangi kan? Terima saja, kamu akan bahagia hidup dengan orang yang kamu sayangi. Dan kamu dengar sendiri kan bahwa ia akan membantu usahamu? Kapan lagi kamu bisa mendapatkan kesempatan seperti ini?

Namun sisi lain dari diriku menjawab :

Kamu ingat bagaimana ia dulu merusak hidupmu? Menjauhkamu dari Tuhan mu? Lalu meninggalkanmu begitu saja dengan mainannya yang baru? Bagaimana dengan Alya? Dia jauh lebih pantas untukmu.

Aaaarrgghh..!! Momen ini sungguh membuatku gila! Aku tak mampu berkata apapun hingga ia kembali menanyaiku..

Gimana? Kok diem aja?

Sebenarnya aku ingin sekali menerimanya kembali dan memeluknya ketika itu, namun aku lebih memilih untuk mendengarkan nuraniku daripada nafsuku. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu aku tersenyum dan berkata tanpa berani menatap matanya..

Mungkin cerita kita sudah lama selesai, dan jangan ada lagi Wolfy dan Wolly diantara kita (itu adalah panggilan sayang ketika kami masih berpacaran dulu). Aku gak mau kembali ke masa lalu. Lagipula aku sudah punya calon istri yang saat ini sedang menungguku di kota lain, jadi.. Maaf.. Aku gak bisa 🙂

Lia terdiam sejenak, lalu.. Menangis. Aku masih terdiam tanpa mampu menatap wajahnya, hingga ia tiba-tiba memelukku dan berkata

Maafin aku, aku emang gak pantes buat kamu.. Aku nyesel dulu udah ninggalin kamu.. Aku baru sadar kalo cuma kamu yang ngertiin aku.. Maafin aku..

Aku tak mampu lagi berucap dan aku membiarkannya memelukku beberapa saat. Tidak tega rasanya, namun aku harus mengambil keputusan ini demi kebaikanku. Aku tidak ingin dia merusak segala kebaikan yang dengan susah payah berusaha aku capai, aku tidak ingin ia kembali menarikku dari jalan yang benar yang sedang aku tuju, aku tidak ingin membuat kesalahan yang sedang berusaha aku hapuskan. Dan ya, jika aku menerimanya kembali, itu bukanlah nuraniku yang berkehendak, melainkan nafsuku belaka. Selama ini aku belajar bahwa nurani yang sesungguhnya akan membawaku menuju kebaikan, bukan kesenangan yang selalu dikejar oleh nafsu.

Untunglah ia sudah sedikit mendewasa, tidak memaksakan kehendaknya seperti yang biasa dilakukannya dulu ketika kami masih berpacaran. Aku berusaha menenangkannya, hingga ia berhenti menangis dan ia pun berpamitan untuk pergi.

————————— * * —————————

Ketika masa lalu memintamu kembali, coba tengok apakah masa lalu itu membawa kebaikan bagi dirimu atau tidak? Jika tidak, maka kamu harus berani menolaknya karena kamu lebih pantas untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Jangan biarkan masa lalu menjebakmu dan membuatmu tidak bergerak ke arah manapun.

Ikuti nuranimu, bukan nafsumu. Nurani akan selalu mengajak kita untuk menuju kebaikan, sedangkan nafsu hanya akan mengajak kita menuju kesenangan. Dan kesenangan yang dituju oleh nafsu biasanya bersifat sesaat karena nantinya kesenangan itu hanya akan menjebakmu, itu hanyalah sebuah tipu daya. – Masbocah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY