I Won’t Help You My Friend

I Won’t Help You My Friend

309
0
SHARE

I Won’t Help You My Friend (Aku Tak Ingin Menolongmu, Teman) – Namaku Indra, umurku 23 tahun dan saat ini aku tinggal jauh dari orang tuaku untuk merantau. Aku tidak suka “terikat” oleh sesuatu khususnya untuk soal pekerjaan, maka aku memilih untuk membangun usahaku sendiri meski hanya memiliki sedikit modal. Sebelumnya aku pernah beberapa kali bekerja di berbagai perusahaan swasta namun aku tak pernah betah untuk berlama-lama meski gaji yang diberikan bisa dibilang cukup besar. Entahlah, aku hanya merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Hampir 2 tahun lalu aku memutuskan untuk tidak lagi mau bekerja sebagai karyawan agar aku bisa mengikuti passion ku dimana aku ingin melakukan apa yang aku suka sehingga aku bisa menikmati apa yang aku lakukan. Aku ingat waktu pertama kali datang ke kota ini hampir setahun lalu, dimana aku meyakini bahwa aku akan bisa memiliki hidup dan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Oia, kebetulan aku memiliki seorang teman bernama ryan yang juga tinggal disana. Seorang teman baik yang ku kenal semasa sekolah dulu.

Dia adalah orang yang selalu menemaniku ketika aku ingin pergi ke berbagai tempat di kota ini. Maklum, aku masih belum memiliki kendaraan sendiri sehingga aku sangat tergantung padanya. Lagipula aku juga tidak tau daerah ini kan? Semua berjalan normal pada awalnya dan aku terlena dengan kebebasanku ini sehingga aku melupakan misi awalku untuk datang ke tempat ini.

Maklum saja, usaha online yang aku miliki berjalan lancar-lancar saja bahkan ketika aku tidak mengurusinya sehingga aku tidak mengkhawatirkan soal keuangan. Semua berawal pada pagi itu, dimana ia berniat menjual berbagai “aset” dari usahanya yang baru saja gulung tikar. Memang, ia pernah mengaku bahwa belakangan ini usahanya sedang mengalami kemunduran namun aku tidak menyangka bahwa sudah separah ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberikan dukungan moral.

Belakangan ia nampak gelisah dimana ternyata aku baru mengetahui bahwa ia juga terlilit hutang. Sebagai seorang teman aku berusaha membantu dengan apa yang aku punya, karena aku tau dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai pertolongan. Kedua orangtuanya sudah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan di kota ini ia hanya tinggal sendirian tanpa sanak saudara.

Akupun mencoba membantunya untuk memulai usaha baru meski kecil-kecilan, namun hampir semuanya tidak memberikan hasil yang diharapkan. Dan semua itu berlangsung hingga usaha online ku mengalami penurunan profit yang signifikan hingga akhirnya tak mampu lagi menghasilkan apa-apa. Memang, ini semua salahku karena aku terlalu lama mengabaikan usaha tersebut karena terlena dan terlalu fokus untuk membantu ryan hingga aku tak sempat mengurusi usahaku sendiri.

Kami bertekad untuk bisa bangkit bersama, namun lagi-lagi aku lebih berfokus untuk membantunya karena ia tak mampu mengurusi usaha barunya sendirian. Ia sering kali melalaikan sesuatu sehingga harus diingatkan. Dan hari itupun tiba. Tabunganku sudah sangat menipis, sedangkan aku tak memiliki sumber pemasukan lain. Aku berpikir untuk menyerah dan kembali ke kota asalku karena tabungan itu hanya cukup untuk membeli tiket pulang. Apalagi orangtuaku pun memintaku untuk segera pulang ketika mengetahui keadaanku.

Aku berniat untuk memulai semua usahaku dari awal di tempat asalku nanti. Namun aku membatalkannya karena ryan terlihat sangat down ketika aku menyampaikan niatku itu. Aku melihat keputusasaan di matanya dan itu membangkitkan sikap kemanusiaanku untuk membantunya (lagi). Sungguh aku tak tega untuk meninggalkan temanku ini sendirian mengingat ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Aku berpikir bahwa aku bisa segera bangkit bersamanya. Dan sementara menunggu hal tersebut aku mengajaknya untuk bekerja sebagai karyawan untuk sekedar bertahan hidup. Ya, aku terpaksa berkompromi dengan idealisme ku sendiri dimana aku pernah bersumpah untuk tidak akan menjadi karyawan lagi. Namun rasa kemanusiaanku untuk membantu ryan membuatku harus menjilat ludah sendiri. Sebelumnya ryan pun tak pernah mau untuk bekerja sebagai karyawan. Namun aku memaksanya secara halus dan mengajaknya bekerja di tempat yang sama agar ia bisa semangat.

Kami pun diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta. Kebetulan sang pemilik sedang ingin membangun sebuah usaha online untuk mengembangkan bisnisnya. Wah kebetulan sekali! Aku pernah berkecimpung di dunia itu dan kami berdua diminta untuk membuat proporsal untuk membangun sebuah usaha baru dimana nantinya kami yang akan mengelola usaha tersebut. Proporsal dibuat, presentasi daaann. Accepted! Pengajuan kami diterima dan dana untuk modal segera dicairkan. Wah betapa senangnya kami malam itu!

Kami menyusun strategi apa saja yang akan kami lakukan nantinya sembari menunggu dana dicairkan. Tentu saja dengan optimisme dan ekspektasi yang tinggi dimana kami berharap ini akan menjadi sebuah pintu untuk bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Akupun berusaha semaksimal mungkin untuk bisa segera mengembangkan usaha tersebut dengan harapan agar nantinya aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang ryan. Namun ternyata perjalanan kami tak semulus yang dibayangkan. Disini justru terlihat sosok ryan yang sebenarnya, dan sedikit konflik pun mulai terjadi.

Seperti biasa perbedaan pendapat adalah awal dari konflik, namun bukanlah itu yang menjadi persoalan utama. Ia sering bermalas-malasan dan menunda nunda pekerjaannya dimana akhirnya akupun harus turun tangan untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya karena kebetulan tugas tersebut memang bisa dikerjakan oleh siapa saja. Namun aku tak bisa membantu apa yang menjadi tugas atau kewajiban utamanya sehingga ia harus menyelesaikannya sendiri.

Dan karena kebiasaannya menunda pekerjaan itu ia menjadi sering “kelupaan” sesuatu dimana ia harus beberapa kali merevisi pekerjaannya. Hal yang tidak kusukai adalah ia sering kali terbawa emosi karena hal itu, padahal itu kan karena kesalahannya sendiri?! Ditambah lagi ia seakan tidak peduli dengan jalannya usaha tersebut. Hal itu terlihat dari aktivitasnya, dimana ia jusru asik bermain game atau socmed ketika ada hal lain yang harusnya dibereskan sedangkan aku masih sibuk dengan tugasku. Dan dengan sangat terpaksa akulah yang turun tangan untuk membereskannya setelah aku menyelesaikan tugasku, dan lagi, ia nampak tidak peduli akan hal itu dan masih asik sendiri.

Tentu saja secara tidak langsung hal itu membuat usaha kami terhambat dimana banyak sekali pekerjaan yang harus tertunda karena aku sendiri harus menyelesaikan apa yang seharusnya jadi tanggung jawab kami bersama. Dan ada hal lain yang membuatku kesal adalah kekasih ryan justru menyalahkanku atas performa buruk dari usaha kami. Dia mencaci ku dan menudingku sebagai seorang pemalas dan semacamnya, padahal ia sungguh tidak tau apa-apa tentang ini.

“Lo tau gak sih ya faktanya gimana? Lo bakal malu udah ngatain gue kalo lo tau yang sebenernya! Lagian ini semua gue lakuin tuh demi idupnya pacar lo, tapi apa? Lo bedua gak tau diri ya?”

Sejenak ingin sekali aku berkata demikian di hadapannya, namun aku berusaha meredam emosiku karena aku merasa tidak akan ada bedanya antara aku dengan mereka jika aku terbawa emosi dan menyalahkan ini dan itu atas segala sesuatu. Maka aku berusaha untuk menjelaskan dengan tidak menyalahkan ryan dihadapan kekasihnya itu karena aku tau dia akan tetap membela dan lebih percaya pada ryan meskipun ia salah. Akupun menganggap semua itu tak pernah terjadi agar tidak menjadi sebuah dendam di kemudian hari.

Siang itu, aku dan ryan sedang berboncengan untuk membeli beberapa perlengkapan usaha dan kami melihat sebuah peristiwa kecelakaan dalam perjalanan itu. Entah bagaimana kecelakaan itu terjadi, yang aku tau dan saksikan adalah seorang gadis yang sudah tergeletak di tengah jalan dan nampak mengalami kejang-kejang. Peristiwa itu terjadi di dekat sebuah kampus ternama, namun saat itu hanya sedikit orang yang melintas dan terlihat hanya satu dua orang saja yang berusaha menolongnya. Ryan yang menyetir motor yang kami tumpangi nampak tak peduli dengan hal itu dan melewatinya begitu saja.

Kebetulan di ujung jalan tempat terjadinya kecelakaan itu terdapat sebuah pos polisi, dan aku meminta ryan untuk berhenti sejenak di pos tersebut agar polisi bisa segera memanggil ambulance dengan harapan gadis itu dapat ditolong dengan segera. Tapi apa kata ryan?

“Ah gak usah biarin aja, paling mahasiswa sana yang ngurusin!”

What?! Sebegitu rendahkah rasa kepedulianmu? Sebegitu rendahkah rasa kemanusiaanmu? Taukah kamu kalau terlambat sedikit saja nyawa gadis itu bisa TIDAK TERSELAMATKAN? Sungguh, aku benar-benar shock mendengar perkataannya itu hingga aku tak mampu berkata apa-apa, hanya bisa bergumam dalam hati. Jadi seperti inikah orang yang selama ini berusaha aku tolong? Orang seperti inikah yang aku perjuangkan hidupnya? Aku sangat marah ketika itu, hingga aku mempertanyakan kembali keputusanku untuk menolongnya dulu.

“Lo tau gak kenapa gue nolongin lo? Ngebela-belain lo, menerlantarkan hidup gue, usaha gue sampe gak keurus itu kenapa? Karena gue PEDULI ama lo! Karena alasan KEMANUSIAAN! Tapi apa? Sama hal yang begitu daruratnya, menyangkut HIDUP MATI seseorang lo gak peduli? Dimana rasa kemanusiaan lo? Bukan manusia lo!

Menyesal rasanya aku telah menyia-nyiakan nafasku untuk menolong orang seperti ini. Dan dari kejadian itu akupun mulai membuka mata dan tersadar bahwa memang aku harus segera menjauh dari ryan, orang yang dulu kuanggap sebagai teman baikku. Orang seperti ini tak pantas untuk ditolong. Ya, TAK PANTAS! Caraku memandangnya pun mulai berubah, dimana sebelumnya aku selalu melihatnya dari sisi positif.

Terlepas dari kejadian itu, aku masih memperhatikan bahwa ia masih saja sering menunda pekerjaan dan sering menyelesaikan sesuatu dengan asal-asalan. Ditambah lagi ia seakan tidak belajar dari kesalahannya itu dimana aku telah berkali-kali mengingatkannya untuk menyelesaikan pekerjaannya tapi ia hanya berkata “ntar, ntar dan ntar”. Ujung-ujungnya? Dia yang bingung sendiri!

Buat apa punya otak?

“Hemm gak heran ya kalo dulu usahanya sampe bangkrut. Lha wong cara kerjanya kaya begini!”

Sekarang aku sudah lelah dengan semua sikapnya, dan aku masih bertahan untuk menjalankan usaha tersebut semata-mata hanya atas nama komitmen kepada sang pemilik sekaligus pemodal usaha tersebut. Sekarang aku tak lagi secerewet dulu, aku tak lagi mengingatkan dia akan hal ini dan itu. Aku tak mau lagi membuang waktu dan nafasku untuk hal yang sia-sia ini. Dan maaf, aku tak mau menolongmu lagi, teman.

Kebetulan usaha lain yang sebelumnya aku rintis sendiri sudah mulai berjalan stabil dan sudah bisa mencukupi semua kebutuhanku. Dan aku sudah meninggalkan usaha yang dibangun bersama ryan karena kuanggap usaha tersebut sudah bisa berjalan sendiri tanpa harus ada aku. Aku memilih pergi karena aku tak ingin menyia-nyiakan nafasku untuk waktu yang lebih lama lagi. Aku tak mau tau lagi soal ryan dan hidupnya. Dan aku tak mau tau lagi apakah ia masih hidup atau mati. Tidak, aku tidak membencinya. Aku hanya merasa dia tak pantas untuk mendapatkan pertolongan apapun lagi.

————————— * * —————————

Cerpen ini mengisahkan seorang teman yang baik (terlalu baik) yang menyia-nyiakan sebagian hidupnya untuk menolong orang yang salah dimana kebaikannya itu tak pernah dianggap hingga ia merasa lelah dan memilih untuk pergi.

Image credit : Tony Carroll

Ingatlah, sebuah hubungan pertemanan atau persahabatan itu bermula dari kepedulian. Maka mulailah untuk peduli terhadap orang-orang atau hal-hal lain yang ada di sekitarmu agar kamu bisa menjadi sahabat bagi semua orang. Jagalah temanmu, jagalah sahabatmu. Karena tidak semua orang mampu menjadi seorang sahabat. – Masbocah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY