Home Daily Life Hikmah Dari Sebuah Kehilangan Versi MasBocah

Hikmah Dari Sebuah Kehilangan Versi MasBocah

820
0
SHARE

Hikmah Dari Sebuah Kehilangan Versi MasBocah – Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya kehilangan, entah kehilangan dalam bentuk harta benda ataupun kehilangan orang-orang terkasih. Oke, di posting ini pembahasannya lebih pada kehilangan harta benda. Sedikit curhat dulu boleh kali yaa.

Pagi hari kemarin aku kehilangan 2 buah tablet ketika aku meninggalkan kamarku sejenak untuk mandi. Diduga kuat pelakunya adalah penghuni kos di sebelah kamarku yang saat itu juga sudah kabur dan mengosongkan kamarnya (masih “diduga kuat” karena kita gak boleh menuduh tanpa bukti, meskipun semua petunjuk mengarah ke dia). Oke memang aku salah karena aku gak mengunci kamar ketika aku tinggalkan karena memang kamarku berada di paling ujung dan tidak ada seorangpun yang akan lewat kecuali aku sehingga aku merasa cukup aman untuk tidak mengunci pintu kamar.

2 buah tablet itu sejatinya merupakan alat yang aku gunakan untuk mengelola toko online yang aku miliki sekaligus menjadi bahan untuk posting di blog ku yang lain plus merupakan alat yang paling sering aku gunakan untuk mencatat berbagai ide, inspirasi atau tulisan untuk di posting di blog ketika aku sedang tidak membuka atau membawa laptop. Hemm mungkin pencuri itu gak tau seberapa pentingnya 2 benda itu untuk kemajuan usahaku yang masih berusaha aku kembangkan. Mungkin dia juga gak tau kalau saat ini aku sedang benar-benar “jatuh” dan 2 tablet itu merupakan sisa dari sedikit aset yang ku miliki untuk menyambung hidup.

Yeah, never mind. I don’t need his sympathy, though. Sempat marah dan ingin sekali mencarinya untuk kemudian ku patahkan giginya dengan kaki ku, dan berbagai sumpah serapah pun sempat tepikir dan terucap meski gak seburuk yang kalian pikirkan. Tapi tetep aja itu buruk. Alhamdulillah emosi yang bergejolak itu gak berlangsung lama karena sesuatu mengingatkanku untuk mengontrol emosiku dan akupun berhasil menenangkan diri.

Lagipula sumpah serapah itu gak akan mengembalikan yang sudah terjadi kan? Cuma buang-buang waktu dan energi aja sih kalo nurutin emosi berlebihan itu. Terus lagi kalo misalnya aku berhasil nemuin dia dan patahin gigi atau idungnya, itu artinya aku sama jahatnya kan kaya dia? Sedangkan aku selalu berujar kalo aku sedang berusaha menjadi orang baik dan memperbaiki diriku.

Ambil nafas panjang dulu gan..

Ffiiuuhh.. Setelah berhasil menenangkan diriku akhirnya aku mampu berpikir jernih lagi dan segala sumpah serapah serta niatan buruk untuk “membalasnya” pun aku urungkan dan aku buang jauh-jauh. Senja menjelang ketika aku sudah kembali ke kamar kos ku setelah aktivitasku seharian. Sejenak aku berpikir, kenapa ya musibah ini justru terjadi padaku yang notabene orang yang sedang “jatuh”? Adzan maghrib berkumandang dan aku segera mengambil wudhu untuk melakukan kewajibanku. Kemudian sesuatu membisikkan padaku dimana ia berkata:

Apa yang kamu miliki di dunia ini hanya merupakan titipan, dimana sewaktu-waktu pasti akan diambil kembali olehNya.

Pastinya aku tidak serta merta menelan mentah-mentah perkataan tersebut dimana setelah aku “cerna”, aku mendapati beberapa hikmah (hikmah dalam artikel ini maksudnya adalah “pesan” dan pelajaran) yang tersimpan dibalik kejadian (kehilangan) yang aku alami :

Agar Tidak Sombong

Dulu memang aku merupakan orang yang suka menyombongkan diri, meskipun gak terlalu parah. Tapi kesombonganku itu sukses menjatuhkanku seperti sekarang. Dan sisa-sisa dari kesombonganku itu memang aku rasa masih ada hingga sekarang sehingga Ia menegurku kembali untuk lebih mengingatkanku bahwa apa yang aku punya selama ini hanyalah titipan dariNya sehingga aku sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri karena sejatinya aku hanyalah makhluk kecil di tengah megahnya alam semesta.

BACA JUGA : Kenapa ujian datang bertubi-tubi dalam hidupmu

Selanjutnya, aku belajar bahwa biasanya orang menyombongkan dirinya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain, dimana itu sangat bertentangan dengan kata

Alhamdulillahi rabbil’alamin

Yang artinya “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. Artinya, jika kita sebagai makhluk ciptaanNya ingin dipuji dan disanjung, itu sama artinya dengan kita ingin memiliki salah satu sifat yang dimilikiNya dan itu bukanlah hal yang baik. Sombong disini bisa dalam bentuk perkataan, tindakan untuk menunjukkan kelebihan yang kita punya atau pamer. Mungkin nanti aku akan membuat pembahasan khusus soal kesombongan. Lalu pesan kedua yang dapat aku tangkap adalah:

Mengajarkan Keikhlasan

Kehilangan mengajarkan kita soal keikhlasan. Iya, belakangan ini aku merasa bahwa aku lupa bagaimana cara untuk ikhlas. Aku selalu saja mengharapkan sesuatu atas apa yang aku lakukan dimana aku merasa sangat tidak nyaman dengan pemikiran itu. Hal ini juga sempat aku keluhkan di twitter ku beberapa waktu lalu.

Menurutku ikhlas diperlukan sebagai salah satu syarat untuk menjadi orang baik dimana keikhlasan akan menghindarkan kita dari sifat munafik. Oke, memang harus diakui bahwa semua manusia pasti punya sifat munafik, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Tapi bagaimana bisa sebuah kehilangan justru mengajarkan kita tentang keihklasan?

Bagi kamu yang muslim (maaf bagi yang non muslim) pasti pernah mengucap atau membaca surat ini :

Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil’alamin (Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam)

Tapi apa? Ketika kita mendapat musibah (seperti pada contoh kehilangan yang aku alami kemarin) kita sering kali malah mengeluh kan? Bahkan beberapa ada yang berpikiran bahwa Tuhan tidak adil. Itu artinya kita masih “berat” untuk urusan duniawi dan tentu saja sangat tidak sesuai dengan kata yang sering kita ucapkan dalam sholat (bagi yang muslim) dimana menurutku itu termasuk sifat munafik (perkataannya tidak sesuai dengan tindakannya).

Jika memang hidup dan mati kita hanya untuk Tuhan, maka seharusnya kita juga mesti menerima segala keputusanNya atau dengan kata lain kita harus ikhlas. Nah kata ikhlas disini perlu digaris bawahi dan harus dicerna kembali untuk dapat dimengerti dengan baik, mohon jangan ditelan mentah-mentah karena akan menimbulkan pemikiran yang salah.

Kenapa kita harus ikhlas? Kembali lagi, untuk menghindarkan kita dari sifat munafik. Dan kenapa kita harus menghindari sifat munafik? Kembali lagi, agar kita dapat menjadi orang atau pribadi yang baik. Aku yakin pasti ada rencana baik dibalik semua ini, aku juga yakin bahwa keihklasan juga akan membaikkan rejeki kita seperti yang juga pernah ditulis oleh mas Ndop. Aku yakin karena aku pernah mengalaminya sendiri sebelumnya.

Mengajarkan Kita Untuk Bersyukur

Pelajaran lain yang aku dapat dari kehilangan ini adalah untuk lebih bersyukur atas apa yang aku punya. Aku sadar bahwa sebuah tablet adalah barang mewah bagi sebagian orang lain dimana tidak semua orang bisa memilikinya dan aku cukup beruntung pernah punya bahkan lebih dari satu *ini niatnya bukan menyombongkan diri kok, bener deh*. Tapi apa? Aku masih sering mengeluh dan terus saja menuntut ini dan itu sedangkan aku jarang bersyukur atas apa yang aku miliki. Hingga kehilangan ini membuatku berpikir:

Oh iya ya, dulu kan aku pernah punya ini dan itu tapi kok aku malah ngerasa kurang dan kurang terus ya? Bukannya bersyukur malah nuntut yang lain. Sekarang pas semuanya udah ilang baru deh nyesel karena gak pernah bersyukur (dalam arti tidak menjaga dengan baik atas apa yang aku miliki).

Sebenernya ada banyak sekali pelajaran yang bisa aku petik dari kejadian kemarin itu, tapi aku rasa ketiga hal itu udah mencakup sebagian besar dari apa yang aku ambil. Semoga bisa jadi bahan renungan buat kalian juga. Jika dirasa bermanfaat jangan sungkan untuk menyebarkan link tulisan ini ke teman-temanmu di social media 🙂 – Mas Bocah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here