Home Random Air Yang Tak Lagi Jernih

Air Yang Tak Lagi Jernih

483
0
SHARE

Air Yang Tak Lagi Jernih – Bening, begitu perumpamaan sederhana yang selalu kutujukan padanya. Dia tidaklah cantik, dan secara fisik dia biasa saja. Dia gadis populer yang bahkan tak pernah ku anggap indah, hingga aku menyadari keindahannya yang memang tak nampak secara fisik.

Dia gadis yang rendah hati, ramah pada semua orang bahkan kepada mereka yang sering direndahkan. Siapa sangka kerendahan hati itu adalah miliknya yang sesungguhnya adalah kaum yang biasa dihormati karena hartanya.

Perlahan aku mulai mengerti keindahan itu dan mulai mengaguminya. Tidak, bukan karena kepopulerannya. Hanya saja kelembutan dari dalam hatinya mampu aku rasakan dan berhasil memenangkan sebagian besar perhatianku, perhatian yang hanya mampu kucurahkan dari kejauhan.

Perlahan dia mulai menyadari kehadiranku dan menyambut dengan tatapan yang sungguh membuatku tak mampu menahan gejolak emosiku. Hanya sebuah kontak mata, kami berbicara tanpa sepatah kata.

Siapa sangka, dia yang selama ini hanya mampu ku kagumi dari kejauhan tiba-tiba datang menghampiriku. Aku tak mampu beranjak dari tempatku, tapi aku juga tak mampu mengucap apapun dari dalam mulutku. Ah bodohnya aku.

Keberanianku tak cukup besar bahkan untuk menggerakkan lidahku. Hingga ia berlalu karena menganggapku bisu. Ya, kini aku baru menyadari bahwa ini bukanlah sekedar perasaan kagum belaka. Namun waktu kami tak banyak karena perpisahan kami akan berlangsung tak lama lagi.

Ingin kumiliki, tapi keraguan selalu menghampiriku. Apakah dia juga mengharapkanku? Dan ketika aku mampu menghalau keraguan itu, semua sudah terlambat untukku. Dia sudah pergi mengejar ilmu yang lebih tinggi.

Aku selalu berharap dia akan selalu menjadi bening, sosok gadis yang ku kasihi hingga kini. Tahun-tahun berlalu, dia bukan lagi bening yang ku kenal dulu. Dia seperti air yang tak lagi jernih.

Tak ada lagi keindahan itu. Air yang dulu jernih itu telah dicemari dan berubah menjadi keruh. Siapa yang harus disalahkan? Air yang tak mampu menjaga dirinya sendiri? Atau lingkungan yang mencemarinya? Entahlah, aku tak mengerti..

Epilog

Lingkungan memang bisa merubah apa yang ada di ruang lingkupnya. Tapi jika air ingin tetap jernih, ia harus mampu membatasi diri dengan lingkungannya.

Maka jika kamu adalah air, carilah lingkungan yang tidak akan mencemarimu. Atau setidaknya berusahalah untuk menemukan wadah yang akan melindungimu dari lingkungan.

Namun aku tetap yakin, air yang sudah kotor sekalipun dapat dijernihkan kembali meski hasilnya tak akan pernah sama lagi.

SHARE
Blogger lugu yang kadang punya rasa penasaran tinggi | Founder techijau.com & hayuklah.com | Main IG di @masbocah kadang main twitter juga di @PanduDryad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here