Motivasi Agar Kita Tidak Menyia-nyiakan Waktu Dan Hidup

Motivasi Agar Kita Tidak Menyia-nyiakan Waktu Dan Hidup

3512
1
SHARE

Motivasi Agar Kita Tidak Menyia-nyiakan Waktu Dan Hidup – Disadari atau tidak, sebagian besar dari kita sering kali menyia-nyiakan apa yang kita punya. Mulai dari harta benda, kecerdasan atau mungkin menyia-nyiakan orang terkasih kita. Dan yang paling sering adalah kita sebagai manusia sering kali menyia-nyiakan waktu dan hidup kita, padahal dua hal ini merupakan sesuatu yang sangat-sangat penting dan kita hanya diberi kesempatan satu kali saja dan bisa dipastikan bahwa kita tidak akan dapat mengulanginya kembali.

Bagaimana contoh orang yang menyia-nyiakan hidup dan waktunya? Mabuk-mabukan, malas-malasan, dan contoh yang paling mainstream adalah merokok. Mereka yang gemar mabuk-mabukan sering menyebut bahwa “hidup itu cuma sekali, jadi dinikmati aja. Ayo kita seneng-seneng!”. Orang yang gemar bermalas-malasan sering menyebut bahwa “Nanti kan juga bisa, jadi entar wae (nanti aja)”, dan orang yang merokok? Mereka bahkan tidak memiliki alasan yang jelas kenapa mereka harus merokok.

Padahal dengan jalan mabuk, mereka tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa kecuali hanya menghabiskan uang yang mungkin juga masih minta sama orang tua. Dapat kesenangan? Apa dengan berprilaku seperti hewan kamu anggap itu kesenangan? Padahal kesenangan mereka adalah palsu. Mereka memang seakan bisa melepaskan beban pikiran saat sedang mabuk, karena pada saat tersebut mereka tidak mampu untuk berpikir panjang alias kehilangan akal untuk mengendalikan diri mereka sendiri. Mereka memang bisa tertawa lepas saat ada hal kecil yang dianggap lucu, namun mereka juga bisa marah sebesar-besarnya (ngamuk) ketika ada hal yang menyinggung mereka.

Ya, itu semua karena mereka telah kehilangan akal untuk mengendalikan diri saat mabuk. Maka jangan heran jika orang mabuk bisa sangat jujur dan sering kali bicara keceplosan alias jujur yang berlebihan. Apa itu merupakan sebuah kesenangan? Lalu beralih ke orang yang bermalas-malasan, mereka sering kali menganggap bahwa mereka akan punya waktu nanti sehingga mereka bisa menunda-nunda sesuatu yang penting. Padahal belum tentu mereka akan punya kesempatan yang sama nanti, apa mereka yakin besok mereka masih hidup? Apakah ada yang menjamin bahwa umur mereka bisa sampai besok?

Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh seseorang dari timur tengah ketika sedang menyiarkan atau menyampaikan sebuah tausyiah, yang menurutku kisah ini sangat menginspirasi sekali karena bisa menggambarkan bagaimana penyesalan kita setelah menyia-nyiakan waktu yang kita miliki. Dan aku akan menceritakannya kembali dengan versi yang sedikit aku modifikasi.

Once upon a time. . .

Di satu kota, hiduplah seorang nelayan miskin yang sedang sangat membutuhkan uang dan makanan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Saat itu ia sedang pergi untuk mencari ikan. Berjam-jam berlalu namun ikan yang didapatnya sangatlah sedikit. Ia berpikir bahwa ikan yang didapatnya ini bahkan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, apalagi untuk dijual. Akhirnya ia memutuskan kembali ke darat untuk pulang karena ia sudah sangat lelah.

Sesampainya di pantai, ia melihat seekor kerang dengan ukuran cukup besar di dekat perahu kecilnya. Ia memutuskan untuk mengambilnya karena berpikir bahwa daging kerang itu nantinya dapat digunakan untuk menambah kebutuhan makanan bagi keluarganya. Sesampainya dirumah, ia pun membuka cangkang dari kerang tersebut dan ia terkejut saat melihat isi di dalam tubuh kerang itu. Ia menemukan sebuah mutiara yang sangat indah di dalamnya, yang kemudian diambilnya dan diperhatikan dengan begitu teliti seolah tidak percaya atas apa yang baru saja ditemukannya.

Ia berpikir bahwa mutiara itu dapat dijualnya atau ditukarkan untuk mendapatkan makanan bagi keluarganya. Dan pergilah ia ke sebuah tempat makan dengan membawa mutiara itu. Ia menunjukkan mutiara itu kepada sang pemilik tempat makan dengan maksud untuk menukarnya dengan makanan. Lalu sang pemilik rumah makan berkata :

“Wahai nelayan, mutiara ini sangatlah indah. Namun seluruh isi rumah makan ini takkan cukup untuk membelinya. Pergilah ke toko emas, kau akan mendapatkan harga yang lebih pantas”

Lalu pergilah sang nelayan ke sebuah toko emas yang ada di kotanya. Kembali ia menunjukkan mutiara itu pada sang pemilik toko dengan maksud untuk menukarnya dengan emas agar ia dapat membeli makanan. Sang pemilik toko pun berkata :

“Wahai nelayan, taukah kamu berapa nilai dari mutiara indah ini? Seluruh isi toko emasku ini tidaklah setara dengan mutiara yang kau bawa, bahkan dengan tambahan seluruh harta yang ku punya takkan cukup untuk membelinya. Pergilah kepada raja, ia punya banyak harta disana”

Sang nelayan pun kembali bergegas untuk pergi ke istana kerajaan. Saat bertemu sang raja, ia kembali menunjukkan mutiara tersebut dengan maksud untuk menukarnya dengan beberapa harta dari sang raja. Sang raja sangat terkesima dengan mutiara tersebut, dan dipanggil lah beberapa penasehat raja untuk menentukan nilai dari mutiara yang dibawa sang nelayan tersebut. Setelah melalui diskusi panjang, sang raja pun memberitau sang nelayan.

“Wahai nelayan, mutiara ini sangatlah bernilai, namun aku tidak tau harus menukarnya dengan apa. Begini saja, aku akan membukakan pintu dari gudang-gudang harta yang aku miliki selama satu jam, dan kamu bisa mengambil harta sebanyak yang kamu mau selama satu jam itu untuk membayar mutiara ini”

Mendengar pernyataan raja, si nelayan tentu saja sangat senang dan menyetujuinya. Kemudian dibukakanlah pintu-pintu dari gudang harta kerajaan bagi sang nelayan. Sang nelayan sangat terkesima melihat semua harta tersebut karena di dalamnya terdapat begitu banyak harta dan perhiasan. Namun ia berpikir bahwa waktu satu jam yang diberikan oleh sang raja itu sangatlah panjang, sehingga ia memutuskan untuk istirahat sejenak karena ia merasa lelah setelah berkeliling untuk menukarkan mutiara itu. Ia menyandarkan dirinya di dinding untuk beristirahat, dan kemudian ia pun tertidur.

Tak disangka, tidurnya itu sangat pulas, hingga waktu satu jam yang diberikan oleh sang raja telah berlalu begitu saja. Setelah satu jam, ia dibangunkan oleh penjaga karena waktunya sudah habis dan harus meninggalkan gudang harta. Sang nelayan pun bersikeras menolak karena ia merasa belum mengambil apapun dari dalam gudang tersebut, namun apa daya waktunya sudah habis sehingga ia harus diseret keluar tanpa membawa satu apapun dari dalamnya.

Sang nelayan memohon kepada raja untuk membukakan kembali pintu-pintu dari gudang harta tersebut karena ia belum mengambil apapun dari dalamnya. Namun tidak ada kesempatan kedua, karena dari awal memang kesepakatan sudah dibuat dan disetujui oleh kedua belah pihak. Akhirnya si nelayan harus pulang dengan tangan hampa, tak mendapatkan harta serta mutiaranya pun ikut hilang.

——————————– * * ——————————–

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita tersebut? Kita ibaratkan waktu satu jam yang diberikan oleh raja adalah waktu atau umur kita semasa hidup. Sedangkan ketika nelayan harus pulang adalah waktu dimana kita akan kembali kepadaNya. Sedangkan harta yang ada di dalam gudang adalah amal-amal baik yang tidak serta-merta kita ambil. Jadi? Kisah tersebut menggambarkan bahwa betapa ruginya hidup atau waktu yang diberikan pada kita ketika kita tidak memanfaatkannya untuk melakukan hal-hal yang baik.

Bayangkan jika kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan, betapa banyak “bekal” yang bisa kita bawa ketika sudah waktunya untuk berpulang. Sedangkan apa yang terjadi pada nelayan tersebut adalah gambaran penyesalan kita ketika kita sudah dipanggil olehNya, sedangkan tidak ada kebaikan apapun yang kita lakukan ketika waktu kita masih ada. Dan ketika waktu tersebut sudah habis, kita hanya bisa menyesal karena tak satupun kebaikan yang kita bawa sebagai bekal dan tidak ada kesempatan lagi bagi kita.

Sebelumnya perlu aku ingatkan bahwa kamu perlu “mencerna” isi dari tulisan ini agar kamu dapat mengerti. Karena kamu tidak akan mengerti poin apa yang terkandung didalamnya jika kamu menelannya mentah-mentah. Poin dari kisah ini juga masih bisa diperluas lagi, sesuai dengan apa yang biasa kita lakukan dan temukan dalam hidup. Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua 🙂

Salam – Masbocah

1 COMMENT

LEAVE A REPLY